Senin, 28 Februari 2022

Hanya setumpuk sampah

        Pernikahan adalah hakikat yang suci yang harus dilandasi cinta kepadanya terlebih dahulu untuk menjadikannya sakinah. Sebab itu tidak semua semua pernikahan akan mencapai sakinah enteh mereka yang gagal atau itu memang takdir Nya. Begitupun dengan kisah ku, Aleenaa Hendrawan 21 tahun seorang gadis yang didewasakan oleh keadaan.


#1 Permintaan

Jujur seperti gadis seusia ku, aku selalu memimpikan sebuah keluarga kecil yang bahagia. Perpisahan orang tua ku tidak membuatku takut untuk bermimpi menjalankan indahnya hidup dalam keluarga kecil yang bahagia, tapi seketika harapan ku hancur saat aku harus terpaksa menerima permintaan dari laki-laki yang harusnya aku panggil Ayah. "Tidak, sanggah ku dalam hati" saat mata sendunya menatap ku, namun semua itu hanya angan-angan yang bisa ku ucapkan didalam hati, pada saat yang sama semua mata tertuju pada ku seakan aku adalah tersangka utama  yang menyebabkan semuanya terjadi, entahlah apa yang dipikirkan oleh semua orang dan juga laki-laki dewasa didepan ku  sehingga dengan mudahnya mereka menyetujui permintaan laki-laki tua yang sedang berjuang untuk hidup, lebih tepatnya yang saat terbaring sebagai pasien dengan bantuan alat pernafasan agar bisa tetap hidup.

Ini sangat sulit bagi ku, tapi saat itu tidak ada pilihan lain bagiku kecuali menganggukkan kepala tanda aku setuju dengan rencana gila itu. Sungguh saat ini hati Aleena hancur dan yang membuat hatinya hancur lagi-lagi laki-laki yang sama. Laki-laki harusnya menjadi cinta pertama bagi Aleena, menjadi pemimpinnya, namun lihat apa yang dilakukannya kepada ku, dia meninggalkan ku saat aku masih sangat membutuhkan kasih sayang dan dukungan. Bagaimana tidak laki-laki yang harusnya aku panggil ayah pergi dari rumah  saat itu umur ku masih terlalu muda untuk dapat bisa menerima semuanya dan entah takdir apalagi sehingga Tuhan mempertemukan kami  kembali dengan keadaan seperti ini.

"SAH" kata itu terdengar saat lantang di telinga ku dan seketika air mataku terjun begitu saja, kenapa begitu cepat status ku sudah berubah menjadi istri, sungguh ini seperti mimpi bagiku. Meskipun aku belum tau jalan kedepannya yang aku hadapi, boleh aku meminta Tuhan ini adalah takdir terbaik yang engkau gariskan untuk ku, semoga setelah ini tidak ada rasa sedih dan kecewa lagi. 

"Selamat ya Sayang" Ucap Mama sambil  memeluk ku dengan erat menghentikan semua pikiran yang tak akan ada hentinya. 

"sekarang kamu sudah menjadi istri dari nak Dion, kamu harus jadi istri yang baik ya, berjanjilah sama Mama kalau kamu akan hidup bahagia"

Entahlah, apakah Aleena akan bahagia Ma dengan menerima semua keputusan ini, karena aku tau Mama juga terluka tapi nasi sudah menjadi bubur tidak akan ada yang bisa dilakukan selain menjalankan apa yang sudah ada didepan mata. lagi lagi jawaban dari pernyataan Mama hanya dapat aku jawab didalam hati

 "Ma" Ku peluk Mama dengan air mata yang terus mengalir kemudian ku pererat lagi pelukan ku untuk menenangkan hatiku.

haruskah aku bahagia dengan pernikahan ini, sungguh kenapa banyak sekali keraguan dalam hati ini. Apalagi saat aku menatap laki-laki berdiri di dekat penghulu dan pasien yang membuat ini terjadi, ingin sekali aku memupuk rasa benci ku kepadanya sehingga tidak ada ruang lagi di hatiku meskipun sedikitpun, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan, apalagi melihatnya terbaring hidup dengan mengandalkan selang oksigen yang di pasang di indra pernafasannya.

"Sana kamu sambut tanggan suami mu sayang, lihat dia menantap kamu terus" ucap mama menghentikan pelukan erat ku sambil tanggan lembutnya yang salalu ada untuk ku mencoba menyeka air mata yang etah kenapa tidak ingin berhenti dan berkrompi membuat mataku yang memnag tidak terlalu besar kini sudah tambah menyempit. 

Ku angkat kepala ku, mecoba melangkah untuk mendekat laki-laki saat ini sudah sah menjadi suamiku. Tapi sebelum aku berhadapan dengan laki--laki tersebut, tangan ku di tarik. 

"Selamat ya sayang" ucap Bunda Rani, Ibu dari laki-laki yang bernama Dion Alexander yang sekarang yang menunggu sambutan tanggan ku dan yang berstatus sebagai suamiku. 

"Terima kasih tan," ucapku sambil menyeka sedikit air mataku dan menyabut pelukan hangatnya.

"Kok tante sayang, panggila Bunda dong, kan sekarang sudah sah menjadi anak perempuaan Bunda."

"Iya tan, maksudnya Iya Bunda" Senyumnya sungguh membuatku sedikit tenang karena dia akan menjadi bagaian dari hidupku nanti. Terlepas dari semua yang terjadi bukankah hidup harus terus berjalan .

"lihat  tatapan suami itu sungguah menjengkelkan, cepat kamu kesana sayang sebelum nanti sifat aslinya keluar, nati bunda jadi malu." ucap buda sambil membawa ku menuju laki-laki kaku dengan santai berdiri dan menatapku dengan tatapan yang penuh membunuh. 

"Bunda" teriak laki-laki tersebut karena tidak terima dengan ucapan yang baru terdengar olehnya.

Ku angkat tanggan ku untuk menyabut tanggannya yang sudah menunggu ku, setelah kata sah yang diucapkan olah pemuka agama yang membantu proses hikmat yang kami lakukan di dalam ruangan kecil ini dan hanya di isi oleh Mama, Bunda dan 2 orang saksi yaitu docktor dan  perawat yang menangangi pengobatan laki-laki yang beranam Rudi Hendarawan yang kami panggial dengan sebutan ayah. 

Didepannya dengan senyum yang sungguh membuat aku senang dan terluka karena senyum itu yang aku rinduku dan setelah sekian lama aku menemukan kembali senyum itu. Dion menarik tanggan ku menjadi lebih dekat kemudian dia mencoba mencium keningku di depan semua orang.

"Hapus air mata mu itu, jangan seakan-akan hanya kamu yang menjadi korban. Ingat itu aku juga adalah kobarn disini" Bisikan terhenti saat dimenyudahi ciuaman di puncak kepala ku.

 Seakan dia mengisayratkan kalau dia juga tidak baik-baik saja dan disaat aku mencoba mencerna apa yang diucapkan Dion.

"Sini nak" ucap ayah dengan terbata-bata sambil menunggu uluran tanggan kami  dan membawa diatas katas dadanya. 

"sungguh hari adalah hari paling bahagia bagiku,"ucapnya kembali. 

"aku sungguh meminta maaf pada kalian semua. terutama pada Aleen karena tidak ada saat kamu membutuhkan ayah, percayalah semua ini terjadi bukan kehendak ayah, namun ini rencana Tuhan melalui tanggan ayah. Berjanjilah kalian akan bahagia, dan apapun yang terjadi kalian kan terus bersama ya" Sini peluk ayah  katanya"

"Ayah" peluk ku, meskipun masih rasa beci itu ada. Tapi sungguh aku meridukan pelukan laki-laki yang memeluk ku dengan erat ini.

"Maaf lirihnya, aku tau saat ini sulit bagimu. Tapi aku yakin suatu saat kamu akan memaafkan ku. Maaf.." ucapnya dengan terbata-bata.

Setelah itu tidak terdengar lagi suara deruan nafas bahkan tanggan yang memeluk erat kini perlan terlepas dan mesin yang selama ini membatunya terus bernafas kini sudah tak sanggup lagi menolongnya. 

"Jahat" itu kata pertama yang aku ucapkan setelah beberapa saat mencoba menecerna apa yang terjadi. Isak tanggis dari Mama dan Bunda membuat seisi ruangan ini tumpah riah.

Dockter yang mangang sudah ada di ruangan mencoba mengambil tindakan dan kita semua disuruh keluar.

"Ma, kenapa dia jahat. Ma kenpa dia jahat" Isak tanggis ku sudah tidak bisa ku bendung lagi. 

Kenpa takdir mepermainkan ku seperti ini. Aku baru saja bertemu dengannya sekrang dia dan sudan mengikuti keinginannya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak ku kenal. Setalah aku menuruti keinginannya di malah pergi, sungguh dia adalah laki-laki jahat bukan. Hacur tentu hancur hati ku.


******

#2 Pergi 

Setelah laki -laki tua yang harusnya bertanggung jawab penuh dengan keputusannya, malah perigi begitu saja, ditempatkan di tempat yang layak untuk peristirahatannya yang terakhir, dan keluarga sudah berangsur pulang ke rumah masing-masing dan fakta baru yang aku baru tau ternyata Ayah adalah anak tunggal. Kakek dan nenek ku juga sudah tidak ada jadi bisa di pastikan kalau keluarga yang datang juga bisa di hitung. 

Dalam kesunyian rumah yang terbilang cukup besar duduk di ruang keluarga yang tersisa aku, mama, bunda dan laki-laki yang sekarang sudah sah menjadi suami ku. Kami semua terdiam dengan rasa lelah dan pemikiran kami masing-masing 

"Kalian ingin tinggal di tempat mama atau Bunda" deg hati ku bergetar saat mama memberikan kami pilihan. Sungguh tak terfikir oleh ku kalau akhirnya aku harus mendapatkan pertanyaan seperti ini.

"Iya, bunda tidak masalah kalau kalian ingin tinggal dengan bunda ataupun sama mama Rina, yang penting kalian tidak terpisah lagi. Iya kan An" kata-kata mama dan bunda seakan tak terbantahkan saat ini kami harus memilih.

"Kita tinggal dengan mama aja ya" ku penggang erat tangan mama meminta pertolongan agar dapat menyakinan bunda dan tentu juga suami ku bahwa aku belum siap pisah dengan mama, karena sungguh aku belum siap dengan keadaan baru. Apalagi hidup dengan orang baru aku kenal aku tau bunda baik, tapi aku belum percaya dengan laki-laki itu. 

"kamu ga boleh egois dong Ai, kamu diskusikan terlebih dahulu dengan suami kamu dong, kan sekarang kamu udah punya suami jadi jangan jadi seperti anak kecil" timbal mama yang tidak setuju dengan usulan ku. 

"Ya ga apa-apa An, mereka tinggal dengan mu. Bagaimana Dion, kamu mau tinggal dengan Mama Ana?

Aku tersenyum ceria, untuk pertama kali setelah mendengar Bunda berada dipihakku  dan seperti ada angin segar dan secerca harapan agar bisa hidup bersama mama. Kurang lebih dua minggu air mataku seakan menjadi saksi begitu rumitnya hidup ini.

"Ma, Bun boleh ya Dion dan Ai akan tinggal di Apartemen Dion ya, agar aku dan Ai bisa belajar hidup mandiri dan mengenal lebih dekat. Bolehkan ya Ma, Bun?"

Ai siapa ai, gue Aleena ku lihat dia dengan mata yang menjengkelkan, kenapa dia tidak setuju aja sih dasar srigala tua. Emang apa yang di pelajari dengan hidup apertemen mu. 

"Ya kalau Mama, setuju" tunggu ku eratkan pelukan ke Mama agar di mengeri bahasa isyarat ku kalau aku ga mau tinggal dengan srigala tua itu. 

"Ma, aku ingin menyanggah Mama.

"Karena sekarang tanggung jawan sepenuhnya Aneen mama percayakan kepada kamu, nak Dion jika itu yang terbaik buat kalian  pastinya mama akan mendungkung kalian" Aapakah mama mau membuang aku, kenapa secepat itu dia percaya dengan srigala tua itu,

"Tapi ma, ini ga terlalu cepat, kan Aneena baru kenal sama dia dan perlu waktu, Aneena tinggal di rumah Mama ya atau di rumah Bunda aja ga apa ya. biar kita ada yang jagain" Aku mencoba negososi dengan menampilkan muka melas ku, setidaaknya kalau ga bisa tinggal dengan Mama aku bisa tinggal dengan  bunda, aku ga mau tinggal berdua dengan srigala tua itu.

"Kok dia sih Aneena, nak Dion sekarang sudah menjadi suami mu, pagil mas dong" Mama ga mengajarkan kamu menjadi anak yang pembangkang

"Tapi maa" seketika aku terdiam karena mama melihaat mata mama dengan bola matanya dengan rasa sedih ke longgarkan pelukan ku ditanggan mama dan sekali lagi menatap manusia srigala tua yang diidepan ku. seeprtinya ada tanda kepuasan dan sedikit ejekan dirawut mukanya. 

"sunggug menjengkelaan, huf"


**********

#3 Satu minggu yang terasa cepat

Selama satu minggu kami tinggal di rumah bunda, termasuk mama. melakukan serangkaian acara untuk mengiringi langkah kepergian Ayah. Laki-laki yang membuat istri pertama dan istri kedua menjadi keluarga ya disinilah kami berada dirumah 




*******

#3 Temapat Tinggal Baru 

Hasil dari perdebatan antara aku dan mama akhirnya disinilah aku, tiba di sebuah Apartemen yang terbilang cukup mewah untuk aku yang biasa. Apa aku akan betah tinggal disini, itu kesan pertama saat aku masuk dan menutup pintu yang akan menjadi tempat tinggal dan akan menghabiskan waktu ku disini.

"Dudukllah ada yang harus kita bicarakan" suaranya mengema dengan khas serek yang beberapa hari ini sering aku dengar, tiba-tiba  membuyarkan lamunan ku.

Ku turuti titahnya dengan segera ku letakan tubuhku disofa empuk berwarna hitam pekat yang sudah memanggilku dari tadi. 

sungguh takdir ini sangat rumit, dia yang seharusnya aku panggil dengan sebutan Kakak sekarang menjadi suami ku. Ya memang kita tidakk ada ikatan darah, namun terasa aneh karena kita  dua manusia yang dibesarkan oleh laki-laki yang sama, meski kita tidak saling kenal dan tumbuh dalam rahim dan lingkungan yang sama. Tapi menurutku ini sangat aneh etah apa yang di pikirkan orang tentang kami.

"Apakah kita sudah bisa bicara?"

Lagi-lagi suaranya membuat ku menghilang dari pemikiran yang tidak ada habisnya, kutarik kudua sudut bibirku sehingga terbentuk senyum yang dipaksakan.

"silakan, aku akan mendengarkan mu"


#4 Perjanjian 

"Ini perjanjian pernikahan kita, jika kamu ada yang tidak setuju silakan ajukan. Akan aku coba pertimbangankan'"

" Perjanjian pernikahan maksudnya apa Kak"

" Perjanjian pernikahan kita Ai, aku tidak mau nantinya kamu ikut campur urusan ku dan begitipun aku tidak akan pernah mencampuri urusan kamu. Bagaimanpun kita adalah dua manusia asing dan tentukan kita punya kehidupan masing-masing"

"Baiklah" kuambil map berwana biru dan langsung kulihat ada 3 isi perjanjian yang menurutku tidak ada yang memberatkanku. 

Jujur aku juga belum bisa menerima semua ini dengan adanya perjanjian ini bukah aku bisa melakukan apa yang aku inginkan yang sudah ada di list daftar impianku. Salah satunya aku ingin sekali ke negara Erova.

" Kamu, ada yang perlu diubah dari perjanjian itu"

Ku sambut pertanyaannya dengan senyum yang nyaris sempurna ku goreskan tanda tanggan di atas kertas berwarna putih tanda aku sudah sangat setuju,

"Ni sudahkan"

"Baiklah, aku harap kamu tidak akan melanggar, ingat perjanjian hanya untuk kita berdua dan tidak berlaku di depan Bunda dan Mama."

"oh ya satu lagi, jangan sampai kamu jatuh cinta ya sama aku. 

Dasar aki tua, pede banget dia siapa juga akan jatuh cinta dengan aki-aki dasar manusia kutub.

"aku pastikan aku tidak akan jatuh cinta ke kamu dan tidak akan pernah"


*****

#4 Kamar terpisah 

Setelah semua peraturan baik tertulis dan tidak sudah kami sepakati, aku berjak pergi meninggalkan laki tua dan berlalu ke kamarku. 

satu persatu barang pun sudah tersusun sesuai dengan tempatnya masing-masing, ku tarik kedua sudut bibirku sehingga terbenuk senyum yang sangat indah. Sungguh hati ku lega karena kita tidak terikut aku bebas melakukan apa yang aku inginkan tanpa harus lapor seperti suami isteri lainnya dan kontrak sebagai istri akan berakhir 1 tahun.

Apakah aku meras sedih, pasti itu pertanyaan dari reader, ya tentu dong aku meras sedikit sedih karena diusia muda, setelah kontrak berakhir maka aku kan mendapatkan gerar baru. pastinya kalian tahu gelar apa yang akan aku peroleh. 


"

#5 Kesalahan yang tidak di sengaja




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar