Tuhan mencipkan sesuatu yang di bumi ini tidak secara kebetulan, aku percaya semua sudah ada pada porsinya masing-masing. begitu pula dengan takdir ku.
Surya yang tenggelam semakin larut, tetapi etah kenapa aku masih juga dapat memejamkan mataku sambil memandang foto seseorang yang membuat aku bertahan untuk menata kembali hidupku yang sudah berkeping-keping, seakan oraang yang aku pandangi adalah nyawa ke dua ku yang bisa membuat ku masih tetap hidup samapi sekarang. Etah apa jadinya aku tanpa dia.
"Bunda" teriak malaikat kecilku yang saat ini sudah berusia 5 tahun, dia tumbuh sungguh saat cepat. coba lihat sekarang bahkan dia yang saat ini menatapku dengan dengan senyum seakan menyemangatiku.
"Anak Bunda kon bangun, ini masih malam sayang"
" Bian kangen Bunda" ucapnya sambil berlari mendekapku
, dia adalah malaikat dan belah jiwaku
yang sangat lucu yang membuat sesak dan mencoba menahan tangisku yg seperti masih belum berhenti.
"Iya sayang, jawab ku sambil membersihkan air mata ku yang trus mengalir tidak berhenti dan mencoba kuat di hadapan malaikat kecilku "Bian"
"Iya sayang, jawab ku sambil membersihkan air mata ku yang trus mengalir tidak berhenti dan mencoba kuat di hadapan malaikat kecilku "Bian"
****
Sebenarnya Bian bukan anak yang lahir dari rahimku tapi rahim kak Ana, Kakak yang selama ini tumbuh besar bersamaku dan pengganti ayah bunda yang damai di syurga. Kehidupan aku dan kak Ana sebelumnya baik baik saja dengan hidup yang cukup layak karena pada saat itu mempunyai bisnis properti yang cukup berjalan lancar, namun sekita seperti mimipi menghilang begitu saja ketika ayah dan bunda jadi korban kecelakaan yang menewaskan sekitar 10 termasuk ayah bunda dan sampai saat ini aku masih tidak percaya dengan kejadian itu.
Tepatnya saat itu aku sedang mengikuti pelajaran di dalam kelas di sekolah menengah pertama ada seorang bapak yang berada di depan pintu mengguku.
"Aleen ada yang menjemputmu pulang nak, silakan kemas buku-buku mu ya" ucapa Bu Lina guru matematika yang saat itu sedang mengajar di dikelasku ada rasa sesak yang aku lihat saat Bu Lina sejenak memandngku.
"Iya Bu" jawabku entah kenapa aku seakan terhipnotis dan langsung mengikuti katanya. Sekita semua sudah beres dan aku langsung menghampir Bu Lina untuk berpamitan dan mengikuti Paman yang entah aku tidak terlalu mengenalnya apa mungkin dia tetangga ku atau kerabat ku tapi tanpa berfikir aku langsung naik ke dalam mobilnya.
Sejek keheningan menghapirku, kupandangi jalan yang aku lalaui setiap hari ada rasa sesak yang tiba-tiba higap kenapa rasanya nyata yang aku rasakan dan tak terasa air mataku pun jatuh "Nak kita sudah sampai sayang" Paman Lucas yang aku tau dia tetangga ku di mengenalkan kepada ku saat kami masuk ke dalam mobil karena aku melihatnya seakan ragu dan penuh tanda tanya
Seketika tubuh kaku dan rasa sesak itu kini sudah menjadi tangisan yang tak terbendung saat mecoba masuk dan melewati segerombolan orang yang berada di luar. Ya Isak tangis ku didengar sepanjang perjalanan dan kulihat Kak Ana yang sudah menggunakan pakai hitam mencoba tersenyum kepadaku dan kemudian mendekapku. "Ayah bunda Aleen" ucapnya
Seakan dunia berenti bergerak aku terdiam semakin kaku didekapan kak Ana dan tepat di didepan mataku ada dua sosok manusia yang aku kenal terbujur kaku yang telah terbukus rapi oleh kain putih sebagai pakaian terakhir mereka. " Ayah bunda kak, kenpa ayah bunda kak, kak surauh ayah bunda bangun kak, kak ayah janji akan mengajak jalan jalan kalau aku dapat peringkat kak. Kak tolong bagunkan kak" teriaku seakan tidak henti sambil menguncang tubuh kak ana dan memandangi dua orang yang sanggat berarti dalam hidupku. Sekita gelap, ge gelap ya ku rasakan hanya ada suara teriakan " bangun bangun"
Beberapa tahun sudah berlalu Aleen sudah mencoba hidup normal kembali kembali dan sekarang dengan tekat yang kuat di berusaha menjadi siswi yang berprestasi karena tidak ingin menjadi beban bagi sang kakak yang juga masih membutuhkan biyaya yang banyak apalagi saat ini kakaknya sudah masuk tinggkat akhir di perkuliahan.
Brug brug buka pintunya hi jalang buka pintunya aku kamu didalam triak seorang di luar etah dari mana asal namun wanita itu pasti sedang ada di depan pintu rumahnya Aleen.
seakan tuhun belum cukup menguji hambanya setelah kepergian ayah bunda. Tuhan mengambil kak Ana dan suaminya degan cara yang sama sungguh ini membuatku sesak mereka meninggal saat kecelakaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar