Senin, 13 April 2020

YES, MY BIG BOSS

    Semua tetata rapi sesuai dengan tempat masing-masing, saat sesorang yang tak asing datang memasuki gedung yang tinggi betuliskan Antara Group, sebuah gedung yang sangat megah di tengah ibu kota dengan fasilitas kemewahan yang saat lengakap dari pusat perbelanjaan, restoran, hotel bitang lima sampai dengan pusat rekreasi iya di Dirga Rahendra pengusaha sudah sukses diumur 32 tahun yang masih terbilang muda untuk seorang yang sesukses. 

"Tuan silahakan, semua sudah menunggu anda di dalam Tuan" ucap Riko asesten pribadinya. Tanpa menjawab Dirga langsung melewati Riko dan masuk kerunagan yang sudah penuh dengan berbagai macam orang yang dengan isi pemikiran dan tujuan yang bebeda, ada yang memang tulus mengabdikan diri diperusahaan ada yang mencari keuntungan dan mungkin sebagian mereka juga ada yang peghianat, dengan beragam orang yang tidak bisa Dirga tebak satu persatu namun dia tidak peduli dengan motif mereka yang terpenting bagi Dirga adalah kemajuan perusahaannya dan bagi yang berhiyanat kalau tiba masanya mereka pasti akan kena batunya sendiri.

"Baiklah semuanya karena derektur kita sudah datang mari kita mulai rapat ini"

Seketika semua hening, hanya perwakilkan  petinggi perusaha mencoba untuk menyampaikan pendapat mereka masing-masing untuk mendapatkan perhatian lebih dari Derektur mereka. Dirga tanpa tenang mendengarkan masukan masukan dari mereka terkait ide-ide untuk memperluas jaringan Antara Group sampai metting selesai.

****
Sedang ditempat lain ada seorang gadis cantik, yang sedang sibuk berdebat dengan sang ayah karena ayah selalu ingin ikut capur dengan apa yang dilakukan, takut anak semata wayangnya mendapat kesulitan dan dia tidak akan membiarkan itu terjadi selagi dia masih hidup itulah janji tuan Ardi Artawijaya seorang CIO dari sebuah persahaan propety yang terkenal di kota ini tapi berbanding terbalik dengan putrinya yang lebih suka menjadi dirinya sendiri dari pada harus numpang terkenal atas nama sang ayah.

Ya dia adalah Rellin Artawijaya gadis 22 tahun dengan kulit putih, rambut panjang dan sedikit bergelombang dengan tampilan yang sangat menarik siapa yang tidak kenal Rellin semenjak SMP bahakan sampai kuliah dia adalah idola bagi kaum Adam meskipun dia tidak pernah membawa nama orang tuanya dalam lingkungan kehidupannya, ya Rellin sangat mandiri tidak seperti gadis-gadis pada umumnya yang mengandal nama orang tuanya.

"Ayah sekali ini saja, biarkan Rellin yang memilih, bukan ayah tau anak ayah ini hebat, kalau ayah selalu dalam bayangan Rellin. Aku yakin orang yang mengharaiku karena aku anak ayah" Rayu Rallin dengan menunjukan wajah yang paling imputnya agar sang ayah simpati.

"Tapi Rallin..."  belum sempat Ardi mengutarakan isi hatinya, tiba-tiba Ara langsung menghampiri Ardi sambil memeluk ayahnya.
"ayah percaya Ara kan?. ucapanya lagi untuk meyakinkan Ardi.
"Senyum Ardi yang di paksa dan tarikan nafas yang berat, di artikan oleh Ralin sebagai kata setuju olehnya. Dengan mempererat pelukan dengan Rellin dengan sepontan menciuam Sang ayah dan mengeratkan pelukannya. 
" Ayah terbaik l Love You Dad your my favorite Man in the world. Love you love you dad. 



==========================================
Cafe

Ini sudah lewat 5 menit, tapi orang yang aku tunggu belum juga datang, benar-benar sungguh melelahkan jika harus menuggu. Meskipun orang yang aku tunggu sudah memberi kabar kalau dia akan datang terlambat karena ada urusan mendadak. Ku aduk minuman yang sudah menemaniku 15 menit, karena memang aku belum memesan makanan.

"kita duduk disana aja Di",  teriak seseorang di belakang ku. sekita aku teringat dengan seorang yang mempunyai nama sama dengan sebutan itu, Di..di Dion hahaha orang sangat menyebalkan bagiku, overpretiktip, saiko, tidak punya perasaan pokonya manusi akhir zaman. 

"ku tarik kedua bibirku aku menertawakan dan mengejek dia sesuka hati, tapi ini hanya bisa aku lakukan di dalam hati kalau didepan orangnya lansung bisa perang dunia ketiga yang ada hahaha.

"Hai dengan kak Ara ya, maaf menunggu lama" ucap wajah tampan yang ada didepan ku dan dia lah orang yang aku tunggu mas Abrar.

"Iya ga apa-apa mas, Ara juga belum lama kok" waw sempurna, ganteng, bodynya pas, apalagi sekarang di berdiri tepat di depan ku. Aku meleh nih. ini adalah kesan pertamaku dengan mas Abral.

"Ara, kita pesan makan dulu aja ya soalnya saya laper baget"
"oh ya Mas, ga masalah Ara juga laper kok"

"kenapa kamu ga pesan makan duluan ra, kalau laper. Kan ga lucu nanti tiba-tiba ada seorang ibu minta pertanggungan jawaban atas nama putrinya sama mas"

"ya ga apa2lah, kalau orangnya mas Abral. Ara mau sakit aja biar mas tanggung jawab. hehe 
"kamu ya,
"Aduh Ara sakit nih mas, tanggung jawab ya dibawa aja langsung ke penghulu biar kalo Ara sakit ada mas Abral yang selalu nemanin" sebelum masbaral benar kesal dengan tikah konyo ku, ku pasang wajah paling imut dan kutarik kedua sudut bibirku sehingga terbentuk senyum yang sangat manis. ya imut menurutku ya. ga tau kalau menurut orang lain.

sungguh ini pengalaman pertamaku bisa akrab langsung dengan orang yang baru ku temui, rasanya aku sudah mengenal terlalu lama atau pembawaan Mas Abral yang luar biasa bisa langsung menraik dirku menjadi orang kurasa berbda

karena dirumah hanya ada mama, kak Ira dan aku emang dari kecil kami tumbuh tanpa ada laki-laki yang menemani, ayah sudah pergi meninggal kami dari aku masih kecil. 

"Ra,,, sudah melamunnya, dari tadi hanphone kamu tu bunyi" 

lagi-lagi suaranya membuatku terpana, Tuhan bolehkah laki-laki ini aku bawa pulang terikan ku di dalam hati ya ga mungkin juga aku utarakan langsung ke mas Abral, bisa jautuh nanti harga diriki. 

Ku tupuk jidad ku, sadar lo Ra,,, masih kecil juga sudah mikir aneh aneh. sadar ra, aku mencoba mengingakat diriku sendiri etah kenapa hilapnya kali ini sudah berlebihan hahah :)

"Ra, kok melamun lagi. nanti benar benar kesambet kamu"
"Iya mas, maaf apa tadi"
"Makan ra, nanti keburu dimakan lalat tu makanan"
"mana ada lalat Mas, ada aja mas Abrar"
"abisanya kamu melamun terus.

Maaf ya mas,  kataku dengan memasang senyum yang terindah yang ku punya

setelah itu tak terdengar lagi pedebatan yang belum tau siapa pemenangnya, kita sibuk dengan makanan masing-masing yang terdengar hanya sedikit suara detingan antara piring dan sendok.

"Untuk buku yang pertama, menurut mas konsep novel yang kamu buat sudah termasuk bagus menurut Mas ya ra"
"Benarkah mas,  waw ternyata kepintaran ku emang bisa diandalkan ya" dengan lantangnya aku utarakan menyebeut diri ku pintar padahal emang pintar sih kan aku juara umum dari sd sampai sama dan kuliah pun nilai ku bagus, sedikit sombong ya. 

Mas Abrar hanya membalas pujianku dengan gelengan dan senyuman, tolongan kondisikan kenapa dia tersenyum sangat manis begitu ya, bikan tambah semangat menulis aja biar bisa ketemu terus.

"ini akan mas cek lagi nanti ya, jadi mas belum bisa kasih hasilnya ke kamu sekarang ya Ra"
" siap mas, terus kaapan lagi kita ketemu"
"Mas ga janji ra, kalau ga sempat nanti mas kirim ke email kamu ya. soalnya akhir ini mas sibuk persiapan untuk pernikahan Mas jadi harus selesain semua kereja yang pendding agar nanti Mas ga kepikiran  Ra.

Waw hebat mas Abral mau lamar ara langsung, Ara sudah siap kok Ma" jawaban yang kel


"ya, kan ara mau ketemu lagi" pasang muka memelas 

dia tertawa lepas saat melihat expresi muka ku, 

"hahahahaha, kamu pasang muka kayak gitu jelek tau"
"biarin, yang penting aku bisa lihat mas tertawa" kasih senyum manis
" kamu ya" ucap mas abral sambil tersenyum kepada ku

sepertinya hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagiku, bisa tertawa lepas, bisa tersenyum dengan puas harusnya. aku tidak akan melupankan hari ini. Ya meskipun akun tau ternyata Mas Abral sudah ada wanita idaman

setelah mas Abral pergi, aku mulai membereskan barang-barang untuk menyusul pulang. tapi tidak pulang kerumah abrar ya, aku mau pulang kerumah ku sepettinya aku merindukan kasur. 

sebernya mas abrar tadi nawarin pulang bareng, coba aja kalau aku ga bawa kendaraan pasti dengan sennag hati aku ikut dia. Tapi ga mungkinkan aku sampai rumah, terus balik lagi ke mall ambil mobilku.

ya sudah, saatnya kita pulang. 

#Bertemu manusia planet

ya sudah, saatnya kita pulang....

"ehem..." Dion mencoba mengeluarkan suaranya, setelah 1 jam lalu dia mencoba propesional, bukan propesional namun lebih menjaga martabanya sebagai orang penting. namun setelah melihat teman biacara ara pergi di mulai beraksi.

sedangkan ara terdiam ditempat, setelah mendengar suara aneh "seperti aku kenal dengan suara aneh itu. Ah pasti hanya halusinasiku, ga mungkin dia juga ada di sini, benarkan ara"

"sibuk banget ya, sampai massage aku ga ada yang dibalas"

Tuhan, ada apa ini. ku pegang keningku dengan telapak tangan ku untuk menyakin kembali kalau ini hanya mimpi. sambil sedikit kuputar badan ku, untuk memastikan keadaan.

bola mata ara melotot mau kelaur dari tempatnya, saat aku tau manusia yang ada dibelakang ku dan pasti dia mendengar percakapan ku dengan mas abrar.

 ah gima ini. Apa aku pura-pura tidak tau aja terus kabur, ah tapi tidak mungkin. haruskah aku menyapanya, Tuhan mau dibawa kemana mukaku ini. ayok berfikir Ara, aku mulai berdialog dengan otak cerdeasku.

"kenapa, kaget ya. Expresi kamu seperti mu, sungguh jelek, apa aku seperti hantu" Dion mulai tidak sabar, apalagi melihat expresi ara yang sungguh menjekelan. "apa dia ingin bermain-main dengan ku" ucap dion dalam hati

"ini mah lebih serem dari hantu kali"

"apa kata mu" lagi-lagi dion semakin geram dengan ara, suarya pun sudah mulai satu oktap. rasanya dia sudah tidak tahan untuk membuat ara jera." kamu masih banyak urusan denganku anak kecil" 

"aduh kenpa mulut ini tidak bisa kompromi, berfikir ara keluarkan otak jenius mu. jangan sampai kamu terjebak disini. 

"eh pak Dion" aku mencoba mengalihkan pertannyaannya. kemudian aku mulai menyapa teman yang ada di depannya. Hai ucapku, sambil menunjukakan senyum imutku yang dipakasa agar manusia planet tidak curiga

"Ara pulang duluan ya pak, soalnya misi ara sudah selesai" ku letakan tas di pundak ku dan ku putar badan ku siap-siap untuk melangkahkan kaki dan tak lupa senyum merekah di bibirku. 

"akhirnya"

"aku bukan bapak mu ara dan siapa surauh kamu pulang" Dion mulai tidak sabar, ternyata sungguh tidak menyenangkan berurusan dengan anak kecil.

"tapi ara" sin dia menepuk sofa kosong tepat disebelahnya 
"tapi pak, maksudya mas, kak, bang urusan ara sudah selesai. aku sudah mulai tidak bisa konsentrasi.

"aku bilang siapa suruh kamu pulang, urusan kita belum selsai Ara "

tamatlah riwayatku kalau seperti ini, dasar manusia planet. apa coba pentingnya ara bergabung dengan mereka.

ku tarik nafas dalam-dalam ku langkahkan kakiku menuju sofa yang ditunjuk, seperti ku tarik kembali kata-kata ku kalau hari ini adalah hari terindahkanku karena penggangu ini. 

"kamu pesan makan lagi sana" 

tak kuhiraukan ucapnya, tapi kulangkahkan kaki ku untuk memesan makanan, karena tenagaku pasti akan terkursa habis kalau bertemu dengan dia, jadi aku butuh makanan yang banyak.

#pulang 

setelah hampir 1 jam aku seperti orang bodoh, akhirnya waktunya ditunggu datang juga. pulang. senyum ara mulai terbit lagi.

"kalau gitu ara pulang ya pak" 

tapi dion tidak akan melepaskan ara dengan mudah, dia akan membuat ara menyesali perbuatannya. " brani sekali dia merayu laki-laki didepanku, akan ku buat kau menyesalinya" otak dion sudah penuh dengan rencana liciknya.

"kita pulang bareng, nanti mobil mu supir ku yang jemput. mana kuncinya"

ara mulai panik, "apa-apaan ini kenapa manusia planet semakin menjadi-jadi"

"kan ara bawa mobil sendiri Pak, ga usah diantar nanti ngerpotin bapak" ara mulai membuat pembelaan karena sungguh mimpi buruknya akan berlanjut kalau sampai dia pulang manusia planet.

"supir yang akan mengambil mobilmu, kamu dengan ku, tidak ada batahan ataupun penolakan ara dan satu lagi aku tidak suka kau paggil bapak, pak kalau diluar jam kantor"

"terus ara panggil apa, kan itu emang panggilan seperti itu"  sungguh memag susah berusrusan dengan manusian planet ini, makanya ara selalu menghindar kalau tidak penting-penting banget dia tidak akan pernah mau bertemu.

"kamu ya, dengan siapa tadi namanya"
"Mas abrar, pak"
"ya itulah, kamu bisa sok manis panggil mas lagi, tapi berani-braninya panggil aku dengan sebuatan bapak"
"tapi diakan beda" sanggah ara yang sudah mulai tidak sabaran

setelah debat panjang yang mungkin tidak akan pernah menemukan tidak temu sampai cafenya tutup, aralah yang mengalah dengan mengikiuti kemauan dari dion sang raja yang tidak pernah salah.

"kamu masih laper ga, di apartemen aku ga ada makanan" dion berucap dengan santai tanpa melihat ke arah ara.

sedangkan Ara langsung melotot saat mendengar kata Apartemen" Kok pulang ke Apartemen Mas Dion, Ara mau pulang ke rumah bunda pokoknya" oh ya sekarang panggilan Ara ke manusia planet Mas per hari ini hasil dari perdebatan panjang kami sebelum pulang, itu permintaan manusia planet ya bukan kemauan Ara. 
 
" Aku sudah ijin dengan Bunda Ara dan bunda sudah kasih Ijin kalo kamu pulang rumah mas dan ga ada bantahan ya. lagian sudah punya suami pulang masih ke rumah bunda nanti kamu kualat tau" 

biarin kualat dari tinggal satu atam sama manusia planet, mending di rumah budan. caci ara yang hanya bisa di sampaikan melalui mata bati alias dalam hati mana berani bicara langsung bisa aja nilai manggangnya nanti tidak keluar oleh bos yang ga tau diri.

Nah gitu dong patuh, anggap saja ini hukuman kamu karena berani merayu laki-laki lain didepan suami kamu. 

Siapa juga merayu Mas Abral, kamu aja salah dengar. jawabku karena dengan menunjukan wajah marah 


















senyum
















"terima kasih ya ra sudah mau kerjasama dengan kita" 









Minggu, 23 Februari 2020

NOTHING IMPOSI

Tuhan mencipkan sesuatu yang di bumi ini tidak secara kebetulan, aku percaya semua sudah ada pada porsinya masing-masing. begitu pula dengan takdir ku.

Surya yang tenggelam semakin larut, tetapi etah kenapa aku masih juga dapat memejamkan mataku sambil memandang foto seseorang yang membuat aku bertahan untuk menata kembali hidupku yang sudah berkeping-keping, seakan oraang yang aku pandangi adalah nyawa ke dua ku yang bisa membuat ku masih tetap hidup samapi sekarang. Etah apa jadinya aku tanpa dia.

"Bunda" teriak malaikat kecilku yang saat ini sudah berusia 5 tahun, dia tumbuh sungguh saat cepat. coba lihat sekarang bahkan dia yang saat ini menatapku dengan dengan senyum seakan menyemangatiku.

"Anak Bunda kon bangun, ini masih malam sayang" 

" Bian kangen Bunda" ucapnya sambil berlari mendekapku 



, dia adalah malaikat dan belah jiwaku


 yang sangat lucu yang membuat sesak dan mencoba menahan tangisku yg seperti masih belum berhenti.
"Iya sayang, jawab ku sambil membersihkan air mata ku yang trus mengalir tidak berhenti dan mencoba kuat di hadapan malaikat kecilku "Bian"

****
Sebenarnya Bian bukan anak yang lahir dari rahimku tapi rahim kak Ana, Kakak yang selama ini tumbuh besar bersamaku dan pengganti ayah bunda yang damai di syurga. Kehidupan aku dan kak Ana sebelumnya baik baik saja dengan hidup yang cukup layak karena pada saat itu mempunyai bisnis properti yang cukup berjalan lancar, namun sekita seperti mimipi menghilang begitu saja ketika ayah dan bunda jadi korban kecelakaan yang menewaskan sekitar 10 termasuk ayah bunda dan sampai saat ini aku masih tidak percaya dengan kejadian itu.
Tepatnya saat itu aku sedang mengikuti pelajaran di dalam kelas di sekolah menengah pertama ada seorang bapak yang berada di depan pintu mengguku.

"Aleen ada yang menjemputmu pulang nak, silakan kemas buku-buku mu ya" ucapa Bu Lina guru matematika yang saat itu sedang mengajar di dikelasku ada rasa sesak yang aku lihat saat Bu Lina sejenak memandngku. 

"Iya Bu" jawabku entah kenapa aku seakan terhipnotis dan langsung mengikuti katanya. Sekita semua sudah beres dan aku langsung menghampir Bu Lina untuk berpamitan dan mengikuti Paman yang entah aku tidak terlalu mengenalnya apa mungkin dia tetangga ku atau kerabat ku tapi tanpa berfikir aku langsung naik ke dalam mobilnya.

Sejek keheningan menghapirku, kupandangi jalan yang aku lalaui setiap hari ada rasa sesak yang tiba-tiba higap kenapa rasanya nyata yang aku rasakan dan tak terasa air mataku pun jatuh "Nak kita sudah sampai sayang" Paman Lucas yang aku tau dia tetangga ku di mengenalkan kepada ku saat kami masuk ke dalam mobil karena aku melihatnya seakan ragu dan penuh tanda tanya 

Seketika tubuh kaku dan rasa sesak itu kini sudah menjadi tangisan yang tak terbendung saat mecoba masuk dan melewati segerombolan orang yang berada di luar. Ya Isak tangis ku didengar sepanjang perjalanan dan kulihat Kak Ana yang sudah menggunakan pakai hitam mencoba tersenyum kepadaku dan kemudian mendekapku. "Ayah bunda Aleen" ucapnya 
Seakan dunia berenti bergerak aku terdiam semakin kaku didekapan kak Ana dan tepat di didepan mataku ada dua sosok manusia yang aku kenal terbujur kaku yang telah terbukus rapi oleh kain putih sebagai pakaian terakhir mereka. " Ayah bunda kak, kenpa ayah bunda kak, kak surauh ayah bunda bangun kak, kak ayah janji akan mengajak jalan jalan kalau aku dapat peringkat kak. Kak tolong bagunkan kak" teriaku seakan tidak henti sambil menguncang tubuh kak ana dan memandangi dua orang yang sanggat berarti dalam hidupku. Sekita gelap, ge gelap ya ku rasakan hanya ada suara teriakan " bangun bangun" 

Beberapa tahun sudah berlalu Aleen sudah mencoba hidup normal kembali kembali dan sekarang dengan tekat yang kuat di berusaha menjadi siswi yang berprestasi karena tidak ingin menjadi beban bagi sang kakak yang juga masih membutuhkan biyaya yang banyak apalagi saat ini kakaknya sudah masuk tinggkat akhir di perkuliahan. 

Brug brug buka pintunya hi jalang buka pintunya aku kamu didalam triak seorang di luar etah dari mana asal namun wanita itu pasti sedang ada di depan pintu rumahnya Aleen.

seakan tuhun belum cukup menguji hambanya setelah kepergian ayah bunda. Tuhan mengambil kak Ana dan suaminya degan cara yang sama sungguh ini membuatku sesak mereka meninggal saat kecelakaan.