Pernikahan adalah hakikat yang suci yang harus dilandasi cinta kepadanya terlebih dahulu untuk menjadikannya sakinah. Sebeb itu tidak semua semua pernikahan akan mengcapai sakinah eteh mereka yang gagal atau itu memang takdirNya. Begitupun dengan kisah Aleen seorang gadis yang berhati lembut dan di dewasakan oleh keadaan yang selalu memimpikan sebuah keluarga kecil yang bahagia. Perpisahan kedua orang tuanya tidak membuatnya takut untuk bermimpi, tapi harapannya hancur saat dia harus menerima pemintaan dari laki-laki yang selama ini ia benci.
"Ingin aku menjawab dengan kata tidak" ucap Aleen yang bisa ia ungkapkan dala hati. Namun, semua mata tertuju padanya seakan dia adalah penyebeb semuanya terjadi, etah apa yang dipikirkan oleh laki-laki dewasa didepannya sehingga dengan mudahnya ia setuju dengan permintaan laki-laki tua itu.
Ini sangat sulit bagi Aleen tapi semua sudah berjalan meskipun yang memberikan amanah sudah tenang, tapi dia masih menggoreskan dan menyesikan sebuah luka di hidup Aleen.
"Tar... Sebuah gelas pecah karena sebuah amukan.
"Aku sudah pernah bilang jangan pernah ikut campur urusanku, jika kamu ingin pergi pergilah teriak laki-laki sudah menjadi suami Aleen selama 3 bulan ini.
Telephon.
Hari seperti biasa Silla di sibukkan dengan aktivitas kuliah ya memang super padat, belum lagi dia harus menemani sang mama cek up karena penyakit gula nya. Ya semenjek mama dan ayahnya memutuskan untuk hidup terpisah Silla membiasakan dirinya hidup tanpa sang ayah yang sudah di anggap tidak ada semenjak meninggalkannya dan mama, dan mimilih untuk hidup dengan wanita lain dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Non Silla ada telpon" teriak mbok Sum dari tangga.
"Iya Mbok, bilang tunggu sebentar"
"Siapa juga coba, pagi-pagi seperti ini sudah telepon ngak tau apa orang sibuk, trus kenapa juga tidak langsung telpon ke nomor handphone aja kalau penting" titah Silla kepada penelpon yang belum tau siapa? sambil menuruni tangga yang tak begitu banyak karena rumah Silla yang minimalis dan tak begitu besar tapi masih keliatan mewah karena sangat terawat dibuktikan dengan posisi barang yang tersusun rapi dan juga bersih.
"Hallo Asalamuailkum, hallo, hallo" setelah berapa saat Silla mencoba untuk berbica tapi tak terdengar suara sepatah kata pun jawaban dari sang penelepon.
"Aneh, ada dengan hari ini. Cloteh Silla sambil memandangi telepon yang ia pegang.
"Mbok klau angkat telpon tanya dulu siapa yang telpon, kan aku niggalin kerjaan aku gara-gara telopon yang tidak penting"
entah ada apa dengan gadis 22 tahun ini yang akhir ini sering marah-marah akhir. Mungkin Karena Silla memang sibuk dengan berapa kegiatan ya lumayan padat untuk membatu sang mama menghasilkan pundi pundi uang karena dia tidak mau merepotkan Heni terus yang sudah mulai tua. Setelah berpisah dari sang ayah yang bernama Rudi, Heni memang sangat berkerja keras dengan membuka tempat coffieshop untuk menambah penghasilan mereka. Silla juga kalau tidak ada kegiatan kadang menyempatkan waktunya membatu Heni di coffieshop mereka, meskipun Silla kurang beminat hal berbau coffie, tapi dia mencoba untuk enjoy pada saat membantu sang mama.
Silla adalah gadis yang sederha dan sangat menyukai bunga dan kalau jika ditanya bagin macam dan ragam bunga dia lebih hafal dibanding materi kuliahnya, Memang sejak kecil Silla bercita-cita membuka toko bunga. Karena menurut gads ini hal yang paling menarik kalau setiap hari kita bisa melihat makhluk bumi lainnya yang segar dan alami, tapi dia belum punya cukup uang untuk memulainya. Untuk usaha Heni saja Silla sungah tidak tau modalnha yang mamahnya dapat dari mana karena untuk membuka coffieshop membutuhkan modal yang tidak sedikit apalagi mamanya hanya pensiunan guru ya kalian tahu aja berapa gajinya, egak harus sebut ya. Tapi mamanya selalu punya beribu alasan yang membuat Silla yakin Heni bilang kalau modalnya dari tabungannya dan Silla pun tak mau lebih banyak bertanya karena merasa kasihan dengan Heni yang masih berjuang di usia yang tidak termasuk muda lagi.
"Mbok, teriak Silla dengan senyum yang sempurna sambil meletakkan genggaman telpon ke tempatnya.
" Astafirallahhalazim non, ngagetin aja untung mbok egak ada penyakit jantun. Kalau tidak?
" Kalau tidak kenapa mbok. Silla mendekat dan memeluk mbok dari belakang kayak adegan romantis di drama romatis korea.
"Ya kalau tidak mbok akan goyang poco poco non.
" Hahhaha ketawa Silla pun pencah seakan melupakan sedikit beban di otanya "Abisnya mbok melamun jadi aku kagetin aja, lumayan kan aku bisa lihat goyang poco poco di pagi hari sambil praktek di depan mbok Sum.
" Dan mereka berdua saling pandang kemudian tertawa secara bersamaan. Hahahah.πππ
Selain sang mama Silla sangat dekat dengan mbok Sum. Semua yang di beli Silla untuk mama Heni maka mbok Sum juga dapat karena mbok sum adalah mama kedua bagi Silla dan memang mbok sum sudah sanggat dekat dengan keluarga Sila sejak kecil. Mbok sum juga sudah mengabdikan dirinya lama dirumah silla bahkan sebelum Rudi dan Heni menikah jadi mbok sum sudah termasuk saudara yang penting bagi Silla.
"Emang tadi tidak ada yang menjawab di telepon non? Tanya mbok sum penasaran.
"Egak ada mbok. Mbok lihat aja sendiri kalau ada jawaban dari orang yang menelpon hari ini aku tidak akan goyang poco poco tapi goyang dumang mbok.! Silla menjawab Mbok Sum sambil berjalan menaiki anak tangga.
"Aneh?
"Tapi tadi ada yang berbicara kok non, benaran! suara laki-laki paruh baya, katanya mau bicara sama non penting."
Dengan tatap bengong Silla melanjutkan langkahnya keatas karena ada banyak yang ia kerjakan. Tapi tiba-tiba ada perasaan aneh yang muncul seakan tanda tanya di kepala Silla, tapi cepat-cepat iya tepis karena apa yang fikirkan itu mustahil dia kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai atas. Sedangkan mbok Sum masih bengngong, dia benar sadar kalau kalau tadi di telpon ada suara laki-laki paruh baya" Mugkin salah sambung ucap mbok sum sambil melanjutkan pekerjaannya yang memang hampir selesai.
Sedangkan di dalam kamar Silla ternyata masih memikirkan siapa pemilik di balik telpon. Getaran hp pun memecahkan lamunan yang mulai terasa sesak di kepala Silla dengan malaz silla menekan tombol hijau pada layat hp.
" hallo Assalamualaikum"
" Waalaikumsallam Silla"
"Silla kamu dimana, kamu lupa ya hari ini ada kelas materi terakhir dengan Bapak Sarjono"
"ya ampun Dir, aku lupa jam sembilankan?"
"ya princess kamu hanya punya waku 30 menit dari sekarang untuk siap-siap kalau tidak kamu tidak akan lulus mata kuliah Bapak Sajooo." Tanpa pikir panjang Silla langsung mematikan nada panggilan dari seberang sana secara sepihak karena Silla tidak mau mendengar lebih panjang lagi ceramah dari Dira.
"Kebiasaan" ucap Dira merasa marah karena teleponnya di tutup secara sepihak.
Ya Dira adalah satu satu sahabat yang dekat dengan Silla karena Silla orangnya tertutup dan tak begitu pandai bergaul kalau hanya sekedar teman banyak tapi Dira the best pokonya.
Dengan secepat kilat Silla sudah siap dengan pakaian senada dengan jilbab yang ia kenakan yaitu warna biru.
KECELAKAAN
Di perjalanan Silla naik Ojek Online yang memang itu adalah kendaraan yang tercepat untuk menuju salah satu kampus yang ada di kota jakarta. Soalnya kalau Silla naik buss away seperti biasa dia membutuhkan waktu yang cukup lama. Semula perjalan Silla aman karena driver online sepertinya sudah tau rute kampus tanpa harus Silla jelaskan. Tapi pas di pertengahan jalan driver tiba-tiba berhenti. Dengan sedikit penasaran Silla mulai bertanya kepada driver yang sedang mencoba menerobos kemacetan.
"Pak ada acara apa ya di depan. Kok macet banget ya padahal ini kan sudah siang"
"Sepertinya ada kecelakaan neng
"Ohw.. "
"Tapai didalam hati Silla berharap pengendara tidak terjadi apa. Entah kenapa Silla sangat berharap tidak terjadi apa-ap, entah kenapa sedikit hati sakit mendengar berita itu" padahal ia sama sekali tidak kenal dengan korban.
Setelah beberapa menit sang driver behasil melewati sedikit keramaian.
Tapi mata Silla sangat penasaran dengan korban kecelakan dan dia melupakan dengan mata kuliah pak Sarjono penentu akhir dari perjuangannya. Dengan wajah yang panik Silla coba mengakat kepalanya untuk melihat korban tak sengaja dia melihat bayang bayang laki laiki tua yang tidak ingin di lihat dalam hidupnya. Bahkan menyebut namanya pun sangat tidak mungkin.
"Ayah" suara yang keluar dari bibir manis Silla yan hampir 15 tahun tidak pernah iya sebut meski di dalam hati pun apalagi di dalam do'a.
"Pak saya turun disini saja"
"Tapi neng sebentar lagi samapi kampus.
"Tidak apa-apa saya turun disini terima kasih. Mata Silla masih memandang dengan korban yang mulai membuat dadanya berhenti sejenak.
"Ayah, ayah yang hanya ada di dalam pikiran Silla saat ini, sampai ia benar benar melihat laki-laki tua yang ada di hadapannya sekarang yang tersenyum melihat Silla mendekat, meski darah banyak yang keluar dari kepala laki laki tua dia masih tersenyum dengan menyebutkan nama
"Silla.. dia adalah gadis kecilnya yang rindukan sekarang ada di hadapannya.
Saat Rudi mau menutup matanya ia mendengar ada yang memanggillnya ayah dengan sedikit tenaga yang tersisa di mencoba untuk membuka matanya kembali.
" ternyata benar yang memanggilnya gadis kecilnya.saat rudi tau yang memanggil nya adalah gadis kecilnya yang memiliki sifat keras kepala seperti dirinya senyum itu sangat nyata rasa sakit yang rasa sekarang tak sebanding dengan rasa bahagianya yang dia tunggu 15 tahun menunggu gadis kecilnya memanggil sebutnya dengan ayah kembali
Sedangkan Tubuh Silla bergetar tidak pernah ia bayangkan akan bertemu dengan Rudi dalam kondisi seperti ini, perlahan air mata yang lelah tertutup dengan seulas senyum yang masih setia di bibir yang tidak terlihat muda lagi.
"Ayah.. ayah dengan panik Silla memberhentikan mobil yang terdekat karena meski otaknya belum memaafkan laki laki itu. Tapi tidak menutup kemungkinan masih ada ruang di hati terdalammya untuk memeluk Rudi seperti iya masih kecil dulu. Semua rasa becampur aduk rindu, benci, namun akan sehatnya merasa sangat kuatir dengan kondisi lelaki tua yang panggil ayah itu. Sungguh sesak rasanya melihat dengan kondisi yang tak berdaya sepperti itu. Benar iya sangat membeci Sanga ayah tapi di relung hatinya selalu berharap dia baik-baik saja. Sungguh di berharap baik kepada Tuhan. "Tolong selamatkan di tuhan, aku mohon ucap Silla di sela air mata yang terus mengalir
"Tolong teriaknya, tolong selamat ayahku aku mohon teriaknya dengan putus asa" tiba-tiba di arah belakang ada berterik.
" Ayah.... kenapa sampi terjadi seperti". Teriak laki-laki berumur 28 tahun itu saat membuka mobilnya.
"Dengan sangat panik Adit berteriak Ayok cepat pak tolong bawa ayah saya kedalam mobil
"Tapi pak polisi. Ucap salah satu warga
"Hei dia ayah saya kalau saya tunggu polisi datang, darah ayah saya sudah keburu abis kalian tahu" Teriak Adit seperti orang gila, entah apa yang di pikirkan warga sehingga mereka belum bertidak dan masih menunggu pihak berwajiba padahal di depan mata ada orang yang hampir meregang nyawa karena butuh pertolongan.
"Sedangkan Silla masih mematung ditempatnya. Tidak tau harus bicara apa.
Dan tak lama Rudi di bawa ke bangku penumpang dengan pertolongan warga. Karena Adit sudah berulang kali teriak.
Entah Tanpa sengaja Adit menarik Silla kedalam mobil memangku sang ayah. Dengan sedikit kaget Silla ikut dengan laki laki yang juga memanggilnya lelaki tua itu dengan panggilan ayah, sama sepertinya.
Dalam pikiran Silla ter bagi disisi lain dia masih sangat kuatir dengan sang ayah.. yang ada di pangkuannya. Di sisi lain hatinya bertanya siapa laki laki yang sedang mengendarai mobil dengan sangat cepat kenapa dia juga memberi panggilan yang sama dengan laki laki tua ini, adakah dia anak ayah dengan istri baru karena memang semenjak ayah nya pergi Silla tidak mencari tau atau tidak mau tau dengan keadaan sang ayah. Dimana dia tinggal bagaimana keluarga apa dia bahagia atau tidak.
"Ayah yang kuat kita akan sampai di rumah sakit. Ucap Adit di bangku supir menyemangti, namun tak di pungkiri dia sangat kuatir dan sangat panik dan tidak yakin dengan keadaan Sanga dengan melihat banyaknya darah keluar dari luka sang ayah.
Sedangan disisi lain Silla yang sudah berantakan karena banyaknya noda darah mengenai pakaiannya, air matanya pun seakan tidak ingin berenti. Dia mencona mencari kain apa saja yang ada di tasnya untuk membukud kekepal Rudi berharap darah yang keluar akan sed ok kit berhenti. "aku mohon bertahanlah, aku tau kamu kuat, sebegitu bencilah kamu padaku sehingga kamu tidak mau melihatku lagi. Ucap Silla yang menahan sesak di dadanya karena tangis yang tak ingin berhenti.
Sekita silla sedikit manari kedua sisi bibirnya sehing terbentuk senyum yang sangat samar karena dia menemukan sebuah jilba yang ada di tasnya dan langsung iya ikat di kelapal Rudi dengan tangan gemetaran.
Hening Adit focus dengan setirnya sedangkan silla fokus dengan laki-laki iya panggil ayah itu mencoba sebisa mungkin untuk membuat darahnya berheti.
Sekita keheningan terpecah karena mobil sudah berhenti di depan rumah sakit,
"Ayok coba bantu aku angkat kepala ayah Adit berteriak dengan silla. dan dengan sigap Adit mengambil alih sang ayah Rudi langsung di pangku
" Ayah" ucap Adit denga tarikan nafas kasar seakan masih tak percaya, "Ayah ku mohon bertahanlah" kata Adit sambil membawa Sang ayah di dalam pangkukan. " Ayah masih banyak cerita yang belum kamu beritahu aku mohon bertahanlah ayah untuk aku dan untuk bunda" Dan tak lama sekumpulan orang yang berpakaian baju putih pun mengambil alih si Ardi.
Rumah sakit
Maaf pak. Bu kalian hanya menunggu disini. Percayalah sama dokter, Kalau boleh tahu siapa saudara korban mohon mengisi data pasien dan bertanggung jawab dengan korban kata wanita yang juga memakai seragam putih dengan sedikit senyum.
"Saya anaknya" suara Silla dan lelaki asing. Dan tak sadar mereka mengatakan kata yang sama dan Silla melihat kearah lelaki asing tersebut.
baiklah kalau begitu mas ayok ikut aku untuk mengurus administrasi dan mengisi data korban.
Dengan langkah yang pasti adit mengikut suster untuk kemeja resepsionis, sedangkan Silla masih berdiri di tempat yang sama dengan kebingungan yang ada di dalam pikirannya sekarang.
" Tiba-tiba pintu terbuka yang memecahkan pikiran Silla yang entah dimana mana.
" Dokter gimana kabar ayah saya. Ayah saya baik baik saja kan?.
Dokter gimana? Seakan membuat Silla semakin panik karena dokter muda yang keluar dari ruang ayahnya menampilkan wajah yang sedikit panik"
" maaf mbak, kita harus berbicara dengan keluarga besar atas tindakan yang akan kami lakukan, karena bapak Rudi kekurangan banyak darah dan juga kami harus melakukan operasi, Mbak bis hubungi ibunya karena kami perlu persetujuan dengan keluarga besar pasien.
" Dengan sedikit berani tiba tiba sila menarik Baju dokter dan mengatakan saya anaknya dok, saya anaknya dokter lakukan apa saja yang bisa menyelamatkan nyawanya. Aku mohon dokter lakukan dengan cepat. Dokter bilang ayah saya kehilangan banyak darahkan ambil darah saya dok yang di perlukan asal ayah dia bisa selamat. Aku mohon doktor selamatka dia. Aku ingin marah, aku ingin berterima, aku ingin memukul di doktor. Aku mohon lakukan yang terbaik.
Disini lain adit yang baru selesai menyelesaikan urusannya memantjnh melihat gadis didepanya yang terus memohon untuk keselamatan ayahnya. "Tunggu, dia juga memanggil Ardi dengan sebutan sama. Adit masih melihat gadis yang berteriak itu dengan penampilan yang berantakan oleh darah" siapa gadis itu kenapa dia panggil ayah dengan sebut ayah juga. Kenapa dia begitu panik bahkan melebihi aku. Akan ada cerita yang belum selesai yang ayah janjikan kepadaku tentang gadis ini.
" Maaf dokter aku adalah anaknya. Aku yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada pasien mohon melakukan tindakan segera mungkin untuk Masalah lain nanti saya yang mengurus dok. Kata adit sopan dengan sedikit tenang dia mencoba menjauhkan tangan Silla dari baju dokter dan mengalihkan kepadanya dengan menepuk bahunya untuk sedikit membuatnya tenang dan untuk urusan yang lain akan dia tanyakan jika kodisi Sang ayah sudah mulai kondusif.
"Baik pak, namun untuk memulai tidakan kami membutuhkan persetujuan dan mohon ditanda tangani berkas berikut. Dokter muda sambil memberikan sebuah dokumen yang memeng sudah di persiapkan oleh perwat dan tanpa berlama- lama Adit membubuhkan tanda tanggannya. "lakukan yang terbaik dockter untuk keselamatan ayah sa,, maksudnya ayah kami ucapa Adit sambil memandangi wajah Silla "
"Baik pak, kami akan berusaha kami dan silahkan kalian ikuti suster untuk pengambilan darah karena pasien banyak kekurangan darah." Ucap dokter.
Setelah kepergian sang dokter. Adit mencoba berbicara untuk membetjkan kekuatan dan meyakinkan Silla.
"Percayalah pada dokter mereka pasti akan melakukan yang terbaik dan jangan lupa kita berdoa supaya ayah bisa melewati semua masa kritisnha." Senyum Adit sedikit menyemangati gadis yang ada di depannya.
"Seakan mendapat nyawa tanpa sadar Silla memeluk Rendi menenggelamkan sedikit wajahnya ke dada bidang Rendi dan menangis sejadi jadinya seakan semua yang ditahan nya dari tadi semuanya lepas. " Ayah akan baik baik saja kan" kamu janji kepadaku masih dengan linangan air mata yang seakan tidak mau berhenti.
"Adit menarik sedikit napasnya dan mengangkat tanganya coba menenangkan Silla. "Iya ayah akan baik baik saja, aku yakin. ayah orang baik dia orang yang kuat" dengan sedkit tetesan air mata yang mengalir dari matanya terasa di atas punggung Sella.
" Maaf siapa yang ikut dengan pemeriksaan darah karena kami akan mengambil tindakan segera kepada pasien.
"Saya ucap mereka dengan serentak.
" Baiklah kalau begitu mas dan mbaknya bisa ikut saya.
Setelah pengecekan selesai.
"Mbak mohon maaf sepertinya mbak belum bisa kami ambil darahnya karena tekanan darah mbak saat ini sedang tinggi. Mbak bisa menunggu di luar.
" Untuk mas ayok ikut saya untuk proses pengambilan darahnya. Ucap suster dengan saat jelas.
" Padahal aku sudah ikhlas untuk menyumbangkan darahku. Tapi Tuhan tidak restu ya sudahlah. Ucap Silla yang sebenarnya kesal kenapa dia tidak bisa menolong Rudi. Sedangkan Adit hanya geleng geleng melihat tingkah Silla yang aneh dalam hati dia mulai bertanya siapa gadis kecil ini apakah dia adiknya dari wanita lain entahlah adit mencoba untuk berdamai dengan pikirannya yang penuh tanda tanya.
Bertemu dengan orang asing
Saat Silla keluar tak sengaja dia bertabrakan dengan perempuan paruh baya yang masih cantik diusianya yang sudah dibilang tidak muda lagi.
"Maaf ucap Silla karena merasa bersalah yang tak sengaja menabrak perempuan tua itu.
"Oh tidak apa apa nak, ibu juga buru buru.
"Baik Bu.
Bunyi dering hanphone, membuat Silla sadar dari tanda tanya yang ada di dalam pikiran saat ini.
" Tuhan sudah banyak sekali panggilan Mama, Dira maaf aku melupakan kalian."
" Hallo dir maaf tadi aku tidak bisa pergi kekampus. mendadak ada urusan yang sangat penting tapi sekarang sudah selesai. satu pesan terkirim ke Dira.
"Hallo Ma"
"Hallo sayang kamu dimana, Mama sudah telepon kamu berulang kali kok ngak ada jawaban, Mama telepon Dira kamu egak pergi kekampus?"
"Maaf Ma Silla lupa kasih tau Mama ada urusan yang penting jawab Dira bohong karena tidak ingin mebuat Heni Mamanya kuatir. karena Silla ingin memastikan lagi.
"Jadi jam berapa kamu pulang?
"Sebentar lagi Ma.
sedangkan di dalam ruang lain Adit sibuk bertanya kepada Santi (bunda Adit) tentang keluarga mereka sebenarnya seperti apa.
"Bun apa ayah punya istri lain selain dari Bunda,
"maksud kamu apa sayang kenapa kamu bertanya seperti itu?
"Bun plis jangan bohong. Apa ayah punya perempuan lain kecuali Bunda.
''kamu jangan bercanda sayang, ayah kamu adalah orang yang baik tidak mungkin dia mempunyai wanita lain kecuali Bunda.
"Tapi Bun, tadi ada seorang gadis kecil yang memanggil ayah dengan sebuatan yang sama seperti Adit.
"Maksud kamu?
" Iya Bun, Adit bertemu ayah dilokasi kecelakanan, ada orang lain yang juga ikut panik dengan memanggil ayah juga, tapi Adit rasa ada dendam di matanya yang pernah terjadi di masa lalu membuat orang itu membenci ayah yang Adit tidak tau apa itu Bun.
"di mana dia Dit, Bunda ingin melihatnya.
setelah sampai diruangan, betapa terkejutnya Santi mengetahui kalau wanita yang di sebut Adit adalah wanita yang iya tabrak ketika mau menemui Adit di ruang donor darah.
sekitaka Santi syok, ternyata dunia ini sangat kecil, seperti nya kisah yang aku dan Heni coba tutupi sebentar lagi akan diketahui oleh mereka. ternyata Silla sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik seperti Henny. ucapa santi dalam hati.
Bund. Bund. Adit mecoba menyadarkan Santi dari lamunannya. Iya Dit.?
"Itu gadis yang aku maksud.
"siapa namanya Dit.
"Adit tidak tau Bun, tapi sepertinya dia sangat mengenal ayah. Adit bisa melihat dimatanya prasaan sayang sama seperti Adit meskipun ada rasa dendam juga yang terlihat jelas di matanya gadis itu Bun.
Perlahan namun pasti Santi menghampir Silla. Sedangkan Adit berpamitan untuk pergi ke mobil untuk mengganti pakaiannya..
" Apa aku harus pura pura saja tidak tau tentang ayah dan melupakan semuanya, apa yang harus aku katanya sama mama kalau mama tanya aku pulang dengan keadaan begini. Bagai mana ini, apakah dia akan baik baik saja, apakah dia akan selamat, apakah dia?
Nak ucap Santi membuat Silla menghentikan semua pikirannya.
"Ibu"
"Iya kamu baik baik saja, kamu tidak terlukakan. Tanya Santi dengan sedikit hati-hati dan kuatir. Karena dia tau pasti ada banyak pertanyaan yang ada diotak Silla saat ini.
" Saya baik. Apa ibu mengenal saya, atau saya mengenal ibu? Tanya Silla yang tanpa henti.
Santi hanya tersenyum kemudian satu tangannya memegang kelapa Silla dengan lembut. "Kamu tau nak kamu itu saat cantik,. Sehingga semua orang yang bertemu kamu pasti mereka akan langsung mengenal mu. Percayalah semua yang terjadi itu semua adalah rencana Allah. Seperti hari ini aku bertemu dengan secara tidak sengaja. Kamu masih terlalu muda jangan memikirkan sesuatu yang akan menimbulkan banyak pertanyaan di dalam otak Mu. Suatu saat nanti kamu akan tau kebenarannya, suatu saat nanti kamu tidak akan bertanya apa yang terjadi hari ini atau besok ataupun yang sudah terjadi. Jadi untuk sekarang kamu tenangkan diri kamu.
"Maaf..
Dengan sedikit rasa penasaran dengan pernyataan yang Santi ucapkan, Silla bertanya kembali apakah kita pernah bertemu dimasa lampau kenapa sepertinya pernah melihatmu. Aku pernah berbicara dengan mu.
Nak sudah Ibu katakan bahwa suatu saat nanti kamu akan tau semuanya. Tapi..! pertanyaan Silla terhenti sekita saat ada sesorang yang memanggil teman bicaranya.
Bun.. secara bersama Silla dan Santi melihat dari sumber suara yang tak lain adalah Adit dengan penampilan yang lebih segar dan rapiπ tidak seperti sebelumnya.
sayang kamu sudah datang, kamu bawa yang Bunda pesan.
" Iya bun, tapai Adit tidak tau cocok apa sama dia. Dan Adit langsung menyerah dua bungkus plastik.
"Terima kasih sayang"
"Silla, Santi mencoba memecah keheningan yang sedang sila rasakan.
"Silla ucapnya deng lirih, perlahan namun pasti Silla mengarahkan pandangannya ke Santi. Ibu tau namaku? Ucapnya tak percaya.
"Sayang sudah bunda katakan lebih dari nama mu, bunda tau tentang mu, tapi bunda harap untuk saat ini kamu jangan bertanya?. Ini kamu ganti pakaian mu, bisa tidak tau baju ini cocok atau tidak dengan mu.soalnya Adit juga kan tidak selera mu sayang.
"Tidak usah repot repot Bu, aku akan segera pulang dan mengganti pakaian ku.
"Tapi sayang, kamu tidak mungkin pulang dengan pakaian seperti ini, kalau mama mu lihat pasti dia akan kuatir sama kamu. Kamu ingin membuat mamamu mengajukan banyak pertanyaan. Ucapa Santi meyakinkan.
Lama tak menjawa. Akhirnya Silla pun mengambil plastik yan berisi pakaian yang diserahkan Santi.
Sekita tersenyum dengan tulus.
Di sisi lain Adit yang dari mendengarkan apa yang diucapkan dua wanita didepannya. Mulai penasaran apa yang terjadi di keluarga. Pasalnya semua yang dilihatnya saat ini jelas jelas menunjukan bahwa bundanya sangat mengenal gadis itu. Bahkan bundanya tau nama dan terangnya. Sedikit kerutan di dahinya muncul karena mencoba menebak nebak yang terjadi. Apakah hubungan ku dengan wanita itu, apa hubungnya dengan ayah. Kenpa seperti ada rahasi besar yang ditutupi keluarganya. Siapa Silla atau gadis itu apakah ayahnya punya wanita lain. Dan dia anaknya karena melihat penampilannya wanita umurnya pasti masih dia bawah dia. Apa ayahnya selingkuh, tidak mungkin ayah yang selama ini di idolakannya,. Ayah yang selama ini menjunjung kata setia itu tidak mungkin berguna menghinanti bundanya. Ayah kenapa semua rumit seperti ini, apa yang terjadi sebenarnya apa?
Adit, Santi mencoba menggocang tubuh adit karena sejak tadi Santi mencoba memanggil namub tidak respon.
"Iya bun, maafkan aku Bun ucapannya merasa bersalah karena mengabaikan bundanya.
"Kamu kenapa, ucap Santi penasaran.
"Tidak apa bun, tadi Adit hanya memikirkan kelas yang seharusnya Adit ajar dan Adit lupa memberi tau kalau tidak bisa datang karena insiden ini Bun. Jawabnya dengan berbohong karena tidak mungkin saat ini Adit bertanya kepada Santi tentang yang terjadi dia tindak ingin membuat bundanya bersedih. Namun ketika keadaan sulai mulai membaik dia pasti aka bertanya.
"Oh bunda kira kamu sakit, sayang. Jawab Santi dengan sedikit tenang karena Adit tidak bertanya tertantang yang dia bicarakan kepada Silla,
*****
Keluarga Bapak rudi.
Iya, saya istrinya, kenpa dengan suami saya. Jawab Santi dengan gelisah,
"maaf bu kami hanya ingin memberi tau kalau bedasarkan hasil test darah kami ambil darah atas nama Bapak Rendi tidak cocok dengan golongan darah pasien Rudi, jadi saya ingin mohon kesediaan Ibu dan kelurga untuk mencarikan donor segara karena pasien sekarang sedang kritis dan rumah sakit hanya mempunyai 1 Katong dengan golongan darah B+ kami membutuhkan 1 Katong lagi agar kami dapat melakukan tindakan secpat mungkin.
Sekita Santi yang awal berdiri merasa lemas dan terduk, dia berpikir dia harus mendapatkan darah dalam waktu secepat mungkin. Adit pun ikut memapah Santi karena memang berada didekatnya.
Bun.... Bunda yang tenang pasti kita akan menemukan darah segara, Adit takut Bun. Bunda tenangkan dirimu dulu. Aneh kenapa darah aku berbeda dengan ayah. Siapa sebenarnya aku dan siapa sebenarnya Ayah.
Baik Dok, ucap Santi dengan lemas.
"Baik Bu. Kalau begitu kami akan mencoba melakukan yang terbaik untuk pasien selama menunggu pendonor darah yang sesuai. Jawab dokter yang menangani Rudi.
"Tunggu dok, ucapa Sillan yang dari mendengar pembicaraan antara doktor dan keluarga ayahnya.
Sekita Dokter muda yang sudah mau beranjak pergi membalikkan badannya dan melihat suara yang memanggilnya.
"Silla, kamukah itu ucapa Rayhan yang terkejut kanapa gadis kecilnya ada Disini dan dia baru sadar wanita muda yang tadi menarik kerah bajunya adalah gadis idamannya adalah adik kelasnya dari tingkatnya dari SMP sampai tempat kuliah mereka bersma.
Rayhan adalah tetangganya Silla dari kecil mereka memang sudah akrab bahkan banyak yang tidak senang dengan pertemanan Silla dan Rayhan baik dari segi Adam mau pun hawa. Secara Rayhan selain adalah seorang dokter muda dia juga juga adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan yang saat terkenal di ibu kota dan paras yang sangat mendukung dengan tinggi dan badan yang ideal, muka yang sangat tampan.
Silla dan Rayhan memang terpaut selisih usia 5 tahun ya kalau usia Silla 22 tahun maka sekarang usia Rayhan adalah 27 tahun namun tidak menghalangi pertemanan mereka ketika mereka bersama seperti layaknya pasangan baru karena telihat sangat cocok yang satunya tampan dan satunya cantik dan mereka benar benar hanya sebagai sahabat tetangga Abang dan adek tidak lebih dari itu
"Ka Rayhan. Ya aku mau melakukan tes darah kembali untuk pasien yang bernama Rudi aku yakin saat ini darahku sudah sangat normal. golongan darahku pasti cocok sama dia dengan senyum yang sedikit dipaksa.
Dengan kedatangan Silla sebenarnya Santi merasa sedikit lega karena dia yakin anak ini akan menyelamatkan suaminya.
"Temakasih sayang, kumu memang malaikat yang selalu Tuhan kirim untuk kelurgaku. Entah kenapa Santi mengucapakan kata-kata itu, seakan ini bukan pertama dia menyelamatkan keluarganya.