Bab 1
Rumah Sakit
Seorang gadis berwajah cantik tanpa polesan make up, bibir pink merona dengan mata bulat yang selalu tampil ceria, berlari dengan terburu-buru menelusuri lorong rumah sakit setelah menerima panggilan dari seseorang di telepon genggamnya.
Rambut ikal yang diikat tinggi dan tinggi badan 160 cm membuat dia masih seperti remaja SMA, meskipun kenyataannya dia adalah seorang gadis yang sudah dibilang tak muda lagi. ya gadis itu berusia 21 tahun, Ayra itulah panggilannya
Dengan nafas yang tersengal gadis itu masih berlari sekuat tenaga menelusuri lorong rumah sakit dengan rasa cemas, Ayra mencoba mempercepat langkahnya ke salah satu ruangan rawat inap rumah sakit Ibu Kota hanya untuk menemui orang yang paling berharga dan sumber kekuatan serta kelemahan dalam hidupnya.
"Pagi Ma, gimana perasaan Mama hari ini”
"Pagi, Mama baik sayang. Sini peluk Mama, pasti kamu kangen ya" Emel menyambut putri kesayangannya lebih tepatnya harta satu-satu yang dia punya buah cintanya dengan Rudi yang sudah tenang di surga.
Semenjak kepergian Rudi entah kenapa semesta sungguh sangat senang menguji keluarga mereka, Ayra harus terpaksa melepaskan cita-cita menjadi seorang perawat karena kekurangan biaya belum lagi dia harus bekerja keras mengumpulkan pundi demi pundi uang untuk pengobatan Emel sang mama yang menderita gagal ginjal.
Emel harus melakukan cuci darah setiap 1 minggu sekali demi bisa bertahan hidup, Emel sebenarnya sudah ingin menyerah dengan hidupnya. Apalagi lagi dia tidak tega melihat buah hatinya harus banting tulang berjuang sendirian untuk biaya pengobatannya belum lagi biaya makan dan kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Pernah satu waktu dengan rasa frustasi dengan kehidupannya, Emel berkata dengan Dokter yang merawatnya untuk tidak lagi menjalankan pengobatan dan cuci darah yang dianjurkan oleh sang Dokter karena Emel jenuh dan juga malu pada putrinya karena dia hanya menjadi beban bagi putrinya, biaya pengobatannya yang tidak sedikit semakin membuat tagihan rumah sakit semakin banyak dan dia sudah tidak sanggup membuat putrinya berkorban lebih banyak lagi, sungguh dia merasa sangat sedih karena gagal menjadi tempat bersandar untuk putrinya, namun dia menjadi beban dan manusia tidak berguna bagi permata hatinya itu.
Namun pada saat itu ucapan Emel tanpa sengaja didengar langsung oleh Ayra ketika Emel sedang serius berbicara dengan dokter tanpa dia sadari Ayra ada disana mendengar semua yang dikatakan oleh sang Mama.
"Ma,,,,!" teriak Ayra dengan cukup kencang dari kejauhan dengan berlinangan air mata dan dadanya terasa sangat sesak mendengar permintaan Emel tanpa menghiraukan orang-orang sekitarnya yang melihat dengan rasa penasaran dan kaget dengan tingkahnya
"Ayra " Emel melantunkan nama Ayra dengan bibir gemetar karena melihat betapa hancurnya sang putri mendengar permintaan untuk tidak melanjutkan pengobatan.
"Mama tidak boleh bicara seperti itu ya, Ayra terluka Ma” Setelah berteriak dengan kencang tanpa menghiraukan tatapan mata beberapa orang yang ada dalam ruangan sama dengan mereka Ayra mendekat sang Mama dan memeluknya erat dia seakan benar-benar takut kalau Emel akan nekat melakukan hal tidak diinginkan.
“Mama taukan kalau Ayra tidak punya keluarga lagi selain Mama, Mama jangan pernah berpikiran yang macam-macam ya, percayalah Ayra akan berusaha mencari biaya untuk pengobatan Mama dan Mama pasti akan sembuh. Iya kan Dok?"
Ayra mengarahkan matanya ke arah dokter muda yang berada di dekat mereka meminta pembelaan karena yang selama ini merawat Emel juga dia dan juga pasien lainnya yang ada di ruangan itu.
“Iya Ayra, Mama kamu pasti akan sembuh” ucap dokter dengan sedikit keraguan dan semenjak hari itu Emel tidak pernah mempikan untuk menyerah dengan penyakitnya dan dia harus lebih semangat lagi untuk bisa hidup agar bisa menemani putrinya.
******
Setelah meyakinkan Emel kalau sang Mama akan baik-baik saja, Ayra bergegas keluar dengan menumpahkan kesedihannya yang terasa sesak di dada. Wanita itu hanya bisa berpura-pura kuat jika di hadapan Emel, padahal dia sangat rapuh, dia perlu bahu untuk bersandar atau sekedar teman untuk berbagi keluh kesah.
Setelah dirasa cukup meratapi nasib dan menenangkan dirinya yang rapuh, Ayra berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju meja yang paling menakutkan setelah penyakit sang mama.
"Pagi, saya wali dari pasien yang bernama Ibu Emel Kusuma yang menjalankan perawatan di kamar pasien nomor 9, boleh bantu cek berapa sisa biayanya yang harus saya lunasi ya Kak?
"Baik, mohon ditunggu ya!" jawab resepsionis ramah
Mata Ayra membesar saat melihat jumlah tagihan yang harus dia bayar, dengan sedikit memejamkan matanya sambil menarik nafas sebanyaknya wanita itu berkata "Kamu pasti bisa Ayra, mendapatkan uangnya" Lantunan kalimat penguat yang selalu menjadi mantra agar Ayra bisa kuat dalam menghasilkan pundi-pundi rupiah demi kesembuhan sang mama.
32 juta angka yang tertera di lembaran kertas yang diterima dari resepsionis untuk biaya pengobatan Emel, sungguh itu bukan angka yang sedikit apalagi bagi Ayra yang hanya bekerja kasir di mini market dan juga sebagai asisten rumah tangga saat hari libur.
Ayra hanya ada sedikit tabungan yang dikumpulkannya selama bertahun semenjak ia bekerja namun masih jauh agar bisa menutupi tagihan rumah sakit, karena kebanyakan gajinya juga dipakai kebutuhan hidup mereka sehari-hari
"Ya Tuhan,,,! kenapa biaya bisa semahal ini? Darimana Ayra harus mendapatkan uang untuk melunasi biaya pengobatan Mama? 32 juta hanya untuk biaya untuk perawatan Mama selama 5 hari
"Baik Kak, paling lambat saya harus bayar kapan ya?" ucapnya lirih meskipun Ayra belum tahu akan mendapat uang dari mana.
"Saya lihat di catatan medis Ibu Emel semuanya sudah baik, dalam minggu ini sudah diperbolehkan pulang dan untuk biaya administrasinya sudah bisa dilunasi dek sebelum kepulangan Ibu ya"
Pihak rumah sakit mencoba menjelaskan dengan ramah sesuai prosedur rumah sakit, agar tidak terjadi mis komunikasi nantinya.
"Dalam minggu ini" ulang Ayra, terlebih saat melihat anggukan serius resepsionis.
Masih dalam kebingungan Ayra mencoba untuk menyemangati dirinya kembali " Kamu bisa Ayra" Ayra berpamitan dan segera meninggalkan mejah resepsionis.
Ingin rasanya Ayra menangis saat itu juga, saat mendengar rincian dan total biaya yang harus dibayarkan untuk pengobatan sang Mama. Kenapa cobaan sering menghampiri dirinya?, belum cukupkah Tuhan mengujinya dengan pengorbanannya selama ini? dan sekarang harus di pusing oleh biaya pengobatan sang Mama. “Tuhan bisakah engkau berikan aku kebahagian, tolong pundak ku sudah tidak kuat” lirih nya dalam hati, namun cepat-cepat Ayra tepis karena dia ingin selalu meyakinkan dirinya pasti bisa. “Ayra pastikan kamu bisa”
Ayra sungguh takut kehilangan sang Mama, Ayra tidak mempunyai orang lain tujuan dan tempat untuk pulang. Dia hanya seorang diri di dunia yang kejam ini, dunia yang seolah tak memberi harapannya untuknya bahagia, dunia yang selalu membuatnya terombang ambing yang tak tentu arah.
Rudi sang ayah sudah pergi menghadap sang ilahi saat ia belum sepenuhnya bisa mengerti apa itu hidup, nasibnya sungguh malang.
Sebelumnya Ayra menjalani kehidupan yang bahagia, permata satu-satu dalam keluarga yang sederhana dari pasangan yang bahagia Rudi sebagai salah satu karyawan disebuah perusahaan meskipun jabatan tidak terlalu tinggi namun gajinya sangat cukup untuk kehidupan mereka bertiga.
Tapi kebahagian itu tidak berlangsung lama, mereka harus menelan pahitnya saat mendapat kabar jika Rudi kecelakaan saat sedang tugas kerja di lapangan dan tewas di tempat.
Meskipun, ada ganti rugi dari insiden perusahaan. Tapi semenjak Rudi pergi masalah selalu berdatangan, apalagi saat Emel di vonis mengalami gagal ginjal yang mewajibkan untuk cuci darah.
Kesulitan itulah yang membuat Ayra menjadi wanita yang kuat dan jarang untuk menangis jika dihadapkan orang banyak, namun yang terlihat kuat ternyata hatinya sangat rapuh. “Tolong beri Ayra jalan"
Ayra tertunduk dan memandangi ruang rawat Emel, terlihat Emel sedang tertidur pulas. Tanpa berani masuk, mata Ayra masih tertuju kepada Emel, "Apa yang harus Ayra katakan jika Mamanya tau tentang biaya pengobatannya? sungguh Ayra belum punya jawaban atas itu.
Ditengah kegalauannya, sesorang memberikan selembar kertas yang bertuliskan "Dicari pengasuh dengan gaji 15 juta per bulan" sekitar mata Ayra membulat, apakah Tuhan sedang memainkannya kembali atau itu petunjuk untuknya.
Bab 2
*******
Ditengah kegalauannya, seseorang memberikan selembar kertas yang bertuliskan "Dicari pengasuh dengan gaji 15 juta perbulan" seketika mata Ayra membulat, apakah ini petunjuk atau Tuhan sedang membuat permainan baru untuknya.
"Ah ini pasti tidak benar, mana ada hanya jadi pengasuh bayarannya semahal itu. Mungkin orang gila, lagi mencari mangsa" Ayra melempar kertas tersebut ke tong sampah di dekatnya.
Kemudian berlalu ke ruang rawat sang Mama, hanya untuk memastikan kalau keperluan Emel tidak kekurangan apapun, karena dia akan meninggalkan Emel cukup lama untuk bekerja dan meninggalkan pesan ke perawat yang akan menjaga pasien. Seperti yang sering dilakukannya setiap berkunjung.
Untung semua tenaga medis tempat Emel dirawat semuanya baik, eteh karena mereka merasa kasihan dengan keadaan Ayra atau memang mereka memiliki rasa kemanusian yang tinggi, bahkan saat tidak di minta pun mereka selalu memperlakukan pasien dengan baik. Itu yang membuat Ayra tenang saat meninggalkan Emel sendiri, meskipun ditinggal 1 hari full.
Sebelum pulang dan siap untuk bekerja meninggalkan Emel yang masih tertidur pulas tanpa merubah posisinya. Ayra melihat sekilas ke ruangan Emel, mendoakan agar sang Mama selalu diberikan kesehatan sebelum akhirnya di benar-benar meninggalkan ruang perawatan Emel.
Kediaman Adam
******************
Sedangkan ditempat lain disebuah rumah yang sangat mewah, seorang yang berkuasa sedang meluapkan amarah kepada seluruh isi rumah. "aku tidak mau tau kalian harus cari wanita yang bisa membuat Juna tenang, jika tidak kalian temukan maka jangan harap kalian bisa hidup"
"Baik tuan" ucap semua orang secara serenta mereka dengan rasa takut dan khawatir.
"Adrian asisten pribadi Adam, sudah mengerahkan semua untuk membuat pengumuman bahwa mereka mencari seorang pengasuh dengan gaji yang tinggi.
Juna adalah anak Adam dengan Renata lebih tepatnya matan istri Adam, setelah satu bulan melahirkan Juna, Renata kabur dengan pacarnya dan mengajukan surat perceraian karena dia tidak sanggup menjadi Ibu yang hanya berdiam dirumah sebagai model papan atas dia butuh kebebasan dan dia sudah muak dengan suara tangisan bayi sangat berisik menurutnya.
Adam dan Renata menikah kerana faktor ketidaksengajaan, dimana Adam yang sangat berkuasa pastinya ada banyak orang yang ingin ada di posisinya dan bisa melakukan dengan cara kotor untuk dapat meraihnya. Pada saat yang sama Renata yang karirnya yang mulai berada di puncak banyak rekan yang merasa iri dan mencoba menjebaknya dengan membawa kesebuah ruangan dan beruntungnya Renata bertemu Adam yang membutuhkan pelampiasan sehingga terjadi yang tidak diinginkan dan terjadilah pernikahan dengan penguasa itu. Adam yang memang petualang wanita, namun untuk pertama kalinya dia bertemu dengan seseorang yang masih belum tersentuh dan merasa bersalah sehingga dia bertanggung jawab atas yang dilakukan dengan menjadikan Renata sebagai istrinya. Awal kehidupan mereka sangat bahagia dan karir Renata pun kian melambung dengan dukungan dari Adam.
Sesekali Renata dan Adam pergi liburan, yang membuat orang iri akan hal itu. Apalagi jika melihat postingan di sosial media Renta wanita mana yang tidak akan iri dengan anugerah yang diterima oleh Renata, cantik, karir bagus dan suami sang penguasa.
Semua mata akan menatapnya dengan iri, bahkan tidak sedikit orang yang berteman hanya untuk bisa dipandang dan mendapatkan jabatan. Adam tidak pernah melarang atau membatasi kegiatan yang dilakukan oleh Renata, mereka terlihat pasangan yang sempurna.
Namun menjelang tahun pernikahan yang kedua, Adam sering keluar kota bahkan keluar negeri yang menyebabkan dia jarang dirumah dalam waktu yang lama membuat Renata merasa kesepian sehingga dia memilih melampiaskan rasa kesepian nya di bar dan bersenang-senang dengan teman-temannya di bar. Pada suatu hari bertemulah dia dengan Nikolas yang memiliki profesi yang sama dengannya sehingga terjalinlah kisah asmara yang terlarang dia antara mereka. Namun, sialnya saat Renata ingin berencana meninggalkan Adam, dia baru tau kalau dia hamil dan usia kandungan yang tiga bulan sudah tidak mungkin lagi di gugurkan karena akan mengancam keselamatannya.
Hamil
******
Adam yang mendengar kabar kehamilan Renata pun sangat bahagia, sehingga dia langsung pesan penerbangan untuk pulang.
"Sayang ucapnya dari depan pintu" sekencang apapun Adaam berteriak. Namun, tidak ada jawaban dari pemilik nama.
Maaf tuan, nyoya keluar dan belum pulang sudah 2 hari' Ucap Nina dengan nada ketakutan
"Dua hari belum pulang?" Nanda suara Adam sudah naik lebih tinggi. "Cepat katakan apa yang terjadi selama aku pergi"
Nina menjelaskan tanpa ada yang ditutupi,
****
Dengan langkah yang semangat Ayra melangkahkan kakinya ke salah satu mini market yang selama ini menjadi penolong, serta sandaran dalam hidupnya. Bagaimana tidak di era yang sudah maju, sangat sedikit yang akan mempekerjakan yang cuma lulusan sekolah menengah atas, di era sekarang semua instansi dan perusahaan berlomba-lomba mencari karyawan yang sudah berpendidikan tinggi berlaku juga untuk mini market ternama.
Namun Ayra masih beruntung selalu dipertemukan dengan orang baik, sehingga selalu ada yang menolong dalam masalah pekerjaan dan di mini market inilah dia menggungan hidupnya sepenuhnya selain karyawan baik atasannya baik kepada Ayra karena tak jarang Ayra tiba-tiba harus izin jika kalau penyakit Emel tiba-tiba kambuh.
Dengan helaan nafas, Ayra mengambil seragam yang akan digunakan saat bekerja dengan memasang senyum yang manis dia keluar dari ruangan ganti sudah siap untuk bekerja.
“Selamat pagi semuanya” senyumnya tidak pernah berhenti dari bibir menyapa teman sejawat atau pun customer yang mengunjungi store mereka untuk membeli kebutuhan sesuai yang diinginkan sampai waktunya untuk pulang.
Setelah dengan urusannya, Ayra akan segera pulang bersih berish dan langsung mengunjungi Emel di rumah sakit. Untuk biaya pengobatan Emel dia akan mencari pekerjaan tambahan agar cepat terkumpul.
***
Dengan penampilan yang sudah rapi Ayra sudah siap berangkat ke Rumah sakit untuk bertemu dengan sang Mama dengan menteng Roti dan sedikit buah yang bisa dimakan bersama Emel di rumah sakit.
Kring notifikasi Handphone Ayra berbunyi tanda ada panggilan masuk, dengan segera Ayra mengambil untuk mengecek takutnya dari rumah sakit. Namun, setelah Hanphone digegam ternyata Anya sahabat Ayra yang menelpon.
"Halo Anya cantik lagi apa" Ucapa suar ceempreeng diujung sana
"Kabar aku baik An, ini udah siap mau pergi ke rumah sakit. Tomben kamu telephone, kamu apa kabar?" Ucap Ayra berbasa basi, telephone terus berlanjut tak terasa sudah 30 menit. Namun, sebelum Anya menutup telphone "Ay, apakah kamu masih membutuhkan pekerjaan yang bisa mendapatkan uang yang banyak" ucap Anya dengan pelan takut membuat sahabatnya sedih, dia tau penderitaan sahabatnya jadi Anya selalu menjaga ucapannya.
"Emang ada An?" ucapnya lirih
"An aku dengar dari rekan sejawat ku ada juragan kaya yang sedang mencari pengasuh buat anaknya. gajinya bisa membantu pengobatan tante Emel, Kamu mau tau gajinya berapa 15 Juta satu bulan Ay. Kalau akun beelum menikah dan mempunyai anak tentunya aku mau mendaftar, teman akun sudah pada daftar, tapi belum ada yang cocok, anaknya sangat pemilih"
"Emang itu benaran An, kata Ayra ragu"
"Benaran Ay, anaknya masih ada dirumah sakit tempat tante dirawat kelas VVIP. Anaknya baru satu bulan, gosipnya Ibunya kabur.
***
Sepanjang malam dirumah sakit Ayra berfikir, apakah dia harus mencoba mengambil pekerjaan yang ditawarkan Anya. Selain dia bisa mendapatkan uang lebih cepat untuk pengobatan Emel, dia juga punya banyak waktu istirahat karena tidak harus berdiri sepanjang hari.
Keputusan Ayra
*******
Ayra mengedepankan ego-nya dan kebebasannya dengan menjadi pengasuh baby, namun yang tidak pernah terfikir olehnya yang dicari bukan cuma manjadi pegasuh melainkan menjadi Ibu susu dari bayi 1 bulan yang ditinggal begitu saja oleh Ibu kandungnya.
Bayi merah yang sekarang sudah diam saat di pangkuannya, terlihat gelisah meminta makan seakan dia menemukan Ibu yang telah lama hilang. Sebelumnya bayi terpaksa minum susu formula untuk menunjang kehidupannya, namun tidak jarang sering terdapat keluhan akibatnya. Pihak rumah sakit sudah berupaya menemukan air susu alami dari ibu yang juga mempunyai bayi dirumah sakit yang dengan bayaran yang mahal, tapi bayi dari penguasa selalu memberikan pertanda penolakan. Bahkan beberapa kali Ibu susu langsung mencoba memangku bayi, tetap saja tidak bisa.
Namun, hal yang tidak diduga saat Ayra mencoba memangku Juna langsung diam bahkan saat ini mencoba menggapai Ayra untuk mendapatkan sesuatu yang dirindukannya.
****
Saat mendengar dari rumah sakit, bahwaa mereka sudah menemukan orang yang cocok buat Juna, Adam langsung meluncur pergi kerumah sakit.
"Pak" Ucap salah satu dokter yang menghentikan langkah Adam masuk keruangan putranya.
Adam tidak menjawab, namun Adam mencoba mendengarkan apa yang diucapkan oleh sang dokter.
Sebelum Adam menuju rumah sakit, dia sudah memberikan perintah ke anak buah untuk menyelidiki tentang Ayra. Jadi saat di melangkah masuk ke kamar milik Juna, dia sudah mempunyai rencana apabila gadis di depannya menolak.
Ayra sedikit saat pintu kamar ruangan Juna terbuka, munculnya seorang yang berpenampilan rapi dengan badan proporsional dan sangat bagus tiba-tiba duduk didekatnya saat dia sedang menenangkan Juna yang mulai aktif mencari sesuatu pada tubuh Ayra.
"Kamu" kata Adam sambil menunjuk salah satu yang ada di ruangan meminta membawa Juna pergi karena dia ingin berbicara 2 mata dengan perempuan kecil dan imut di depannya.
Keraguan Ayra
*****
"Satu hari, kamu hanya punya waktu berfikir 1 hari dari kita bicara saat ini. Jika kamu setuju datanglah kepada pada jam yang sama aku tidak suka menunda waktu. Jika kamu tidak setuju maka aku akan mencari orang lain"
"Apa satu hari" kata Ayra yang sedikit kaget
"Jika kamu setuju, besok temui aku" setelah berucap seperti itu Adam langsung pergi meninggalkan ruangan Juna, meninggalkan Ayra yang masih sedikit terkejut.
Di usianya yang masih muda bahkan belum menikah dia relakan semua itu agar sang Mama bisa terus hidup bersamanya lagi. Nyatanya tidak berjalan dengan lancar
Setelah 2 bulan perawatan Emel yang di kelas VIV sudah berjalan lancar karena sudah ditangani oleh dokter dan perawatan yang terbaik dan pendonor ginjal sudah ada, tapi sunggu malang nasib Ayra yang sudah berjuang keras karena belum sempat menjalankan operasi Emel sudah dipanggil menyusul Rudi ke alam yang lebih tenang karena tidak harus merasa sakit lagi.
Seminggu setelah kepergian Emel,
Namun karena terikat kontrak kerja, Ayra tidak bisa mengundurkan diri sewenang-wenang, jika Ayra keluar kurang dari masa kontrak maka dia harus membayar denda yang jumlahnya tidak sedikit.
Sungguh malang nasibnya harus di tinggal oleh orang-orang yang disayangi dan menyisakan dia seorang dan sekarang harus terikat perjanjian kontrak dengan manusia kejam yang bermuka datar yang tidak pernah ada cahaya sedikitpun.
Satu Tahun berlalu
***********
Seperti biasa, setelah menidurkan Juna, Ayra akan ke balkon untuk menyendiri sambil menikmati pemandangan malam rasanya begitu tenang menyendiri dengan berteman dengan angin malam.
Apalagi setelah mengenal Raka, selain ditemani angin malam mereka akan berbicara lewat telepon atau sekedar chat ria sebelum Ayra menjemput mimpinya.
seperti malam ini, mereka tengah asyik bicara ditelpon dengan handphone lamanya. Sementara handphone barunya Masih ditangan Adam, Ayra malas jika harus bertemu dan berdebat dengan laki-laki kutub itu.
"Juna sudah tidur Nad" suara laki-laki seberang sana yang memang sudah Ayra kenal semenjak lama, karena Arka adalah teman sekolah Ayra semasa SMA
Bagaimana tidak berbunga-bunga hati Ayra, laki-laki yang menjadi incaran dan idola para murid putri termasuk Ayra kini sedang berbincang dengannya lewat telepon dengan ditemani oleh angin malam diikuti oleh sinar rembulan yang terang seakan menambah kebahagiaan Ayra malam ini.
Meskipun Ayra sudah menjelaskan profesi kepada Arka, namun Arka tidak mempermasalahkan selama yang dilakukan tidak merugikan orang lain.
"Sudah Kak, Juna tidur sebelum jam sembilan Kak"
" Jadi kamu tidak ada yang mengganggu dong, asik" ucap lelaki diseberang dengan senyum terlihat jelas di bibirnya sambil membayang muka imut Ayra . Sebenarnya sejak SMA, lelaki itu juga menyukai Ayra dan ingin mengungkapkannya. Tapi dia takut Ayra akan terluka nantinya, apalagi di sekeliling banyak wanita yang mengidolakannya dan selalu menempel dengannya meskipun dia pernah menggubris mereka.
Demi melindungi Ayra dan tidak mau membuatnya terluka, makanya dia menyimpan perasaannya. Namun saat pertemuan mereka di rumah sakit dan mengetahui kalau Ayra masih belum menikah, dia tekad kan untuk mendapatkan wanita pujaannya apalagi sekarang dia bukan anak kecil lagi dia ingin menjalankan hubungan serius dan Ayra adalah wanita yang tepat menurutnya.
Selain dari mempunyai paras yang menarik, Ayra pintar dan juga mempunyai Aura keibuan
Mereka terus mengobrol saling melempar candaan dan ditemani angin malam, seakan tidak ingin mengakhiri canda tawa yang tersungging dari masing-masing isian yang sedang kasmaran, sampai tak terasa pukul sudah menunjukan angka 00:00
"hem hem,,,," suara wanita yang sedang tersenyum seketika berubah menjadi muka yang tegang saat mendengar suara yang cukup ia kenali meskipun hanya batuk saja.
Siapa lagi kalau bukan tuan egois pemilik rumah, yang tanpa wanita itu sadari sudah berdiri dan menguping apa yang dibicarakan dengan lelaki seberang sana.
Adam yang sejak tadi hanya menjadi patung menyaksikan senyum manis Ayra yang tak pernah tertuju padanya mulai tersulut emosi, awalnya dia ingin memarahi Ayra saat telepon mereka terputus, namun setelah lama menunggu panggilan telepon yang Ayra lakukan dengan lelaki seberang sana tidak ada tanda-tanda untuk berhenti.
Lelaki itu pun menghampiri wanita yang sedang asyik bertukar canda tawa itu
"Kenapa belum tidur Ayra, ini sudah larut bukan kau tau kesehatan mu sangat penting" tanpa menghiraukan panggilan yang berlangsung Adam memberikan teguran dengan menumpahkan rasa kecewa dan marah kepada wanita yang ada di depannya.
"Maaf tuan, kalau itu mengganggu anda. Tapi saya perlu waktu untuk diri" balas Ayra tanpa rasa takut.
"Waktu kamu bilang" ulang Adam
Tanpa menghiraukan, lelaki yang sedang tersulut emosi di depan. Ayra
“Iya waktu tuan, selama masa bekerja saya janji, saya akan bekerja dengan baik. Tapi beri saya waktu diri saya tuan, untuk masa depan saya”
Karena tersulut emosi dan sedikit rasa cemburu Adam langsung menarik Ayra dan melahap bibir mungil yang bisa-bisanya berbicara manis dengan laki-laki lain di kediamannya.
Ayra tentu mencoba memberontak dengan sekuat tenaga, tapi mereka ada balkon ada banyak yang melihat apa mereka lakukan dan tentunya akan banyak gosip yang akan menyudutkannya kalau sampai isi rumah tau, dia hanya ingin menyelesaikan tugasnya dengan baik lalu pergi dengan damai.
Dengan perlawanan yang seadanya dia mencoba melepaskan tautan mereka yang dikendalikan tentunya oleh Adam dan dengan perlawanan yang dilakukan Ayra membuat Adam semakin gencar untuk dapat menuntaskan bara api yang bergejolak, apabila saat melihat senyum Ayra ditujukan ke lawan bicaranya tadi. di sela cium yang kian menuntut, "Adam yang mencoba melakukan perbincangan kecil dalam hatinya, apakah dia sedang cemburu, tapi entahlah dia harus membuat dirinya puas"
Apalagi saat ini lawan sudah tidak melakukan perlawanan, membuat Adam semakin sulit untuk melepaskan tautan mereka, Adam mencoba mengabsen suruh bibir Ayra tanpa tersisa dan tangannya pun tidak tinggal diam untuk menari Ayra lebih dekat lagi dengannya.
"Dasar Gila"
Setelah merasa kehabisan napas, Adam dengan rasa yang tidak rela harus melepaskan pautan bibirnya dengan bibir mungil di depannya yang sekarang sudah terlihat membengkak.
Dengan tidak tau malu dan rasa bersalah, dengan santainya Adam berucap, "Jangan menjadi wanita murahan Ayra"
"Wanita murahan kata M?" Ayra seakan tidak mau kalah dan sudah tersulut emosinya juga saat mendengar cacian dan hinaan yang ditujukan padanya oleh lelaki yang baru saja mengambil ciuman pertamanya dan yang menjaga anaknya diberi kasih sayang penuh layaknya Ibu kandungnya.
Selama ini Ayra sudah menganggap Juna sebagai anaknya bahkan lebih dari sebagai pengasuh bagi Juna, karena secara tidak langsung kasih sayang yang diberikan layaknya anak kandungnya, apalagi Ayra bukan hanya pengasuh namun menjadi Ibu susu bagi Juna
Namun lihat apa yang dilakukan oleh Adam di mencaci maki wanita, yang sudah mengorbankan dirinya meskipun awalnya dia mau menjadi pengasuh bayinya karena sangat membutuhkan uang untuk pengobatan sang mama dan berujung dengan perpisahan dengan sang mama.
Awalnya dia memang menjalankan tugas hanya karena terpaksa sekarang dia benar tulus, meskipun dia belum pernah menjadi seorang ibu dia korbankan semuanya demi Juna karena anak itu tidak mau berpisah saat pertemuan mereka pertama.
Gadis dengan paras cantik dan bermata bening dan tak pernah dekat dengan lelaki manapun, rela jadi ibu bagi Juna meskipun dia harus mengikuti banyaknya terapi, belum lagi dia juga mengkonsumsi obat-obatan dokter, minum suplemen dan bahkan susu untuk ibu menyusui agar air asinya bisa cepat keluar. Setelah terapi, banyak obat dan suplemen yang ia konsumsi tentu dengan anjuran dokter akhirnya air asi Ayra keluar. Aneh bukan wanita yang pernah hamil karena kecanggihan teknologi dan obat dokter bisa mengeluarkan asi bahkan sangat berlimpah.
Saat pertama kali Ayra memberi asi ke Juna tentunya sangat sakit, bahkan dia harus menahan rasa malu karena Adam berada di dekatnya dan tidak mau keluar dari raungan dimana Juna dan Ayra berada karena dia ingin memastikan secara langsung apakah Ayra cocok dengan Juna.
Setelah menyaksikan dan memastikan secara langsung, lelaki itu sedikit lega dan langsung meninggalkan Ayra berdua dengan putranya agar Ayra lebih nyaman sedangkan dia melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
Namun, lihat apa yang dilakukan Adam padanya sungguh diluar batas, mencaci bahkan menunjuk nya sebagai wanita murah sungguh tidak ada berperikemanusian.
Sakit yang dirasa Ayra dengan tuduhannya,
Ingat wanita murahan inilah yang membuat putranya menjadi sosok anak yang tidak kurang kasih sayang dan memberikan sumber kehidupan baginya, "aku akan pergi jika memang aku tidak dibutuhkan lagi" Ucap Ayra dengan penuh emosi
Bab 6
***********
Sakit yang dirasa Ayra dengan tuduhannya,
“Ingat wanita murahan ini yang membuat putramu hidup, aku akan pergi jika memang aku tidak dibutuhkan lagi”. Ucapan Ayra dengan penuh emosi
“Jika kamu sudah tidak suka bekerja disini silahkan pergi, aku tidak suka orang pembangkang dan tidak ingin mengikuti aturan yang ada di rumah ku” Ucap Adam yang tidak mau kalah.
“Besok pagi aku tidak ingin melihat mu lagi, pastikan pergi sebelum Aku bangun. Mulai malam ini kamu ku bebaskan, tidak perlu menemani Juna tidurlah di kamar mu, aku akan suruh Maya menemani Juna” Namun tanpa sadar yang dilakukan akan membawa dampak tidak baik bagi putranya, Yang dia apa untuk kebaikan Juna atau dia merasa cemburu dengan tingkah Ayra yang sedang bercengkraman dengan lelaki lain.
Setelah berucap Adam pun berlalu meninggalkan kamar milik Juna, enteh apa yang di pikirannya laki-laki yang tidak muda itu, kenapa pola pikirnya menjadi bodoh lebih tepatnya kacau seperti remaja yang sedang cemburu karena wanita yang diincar dekat dengan orang lain.
Dengan rasa yang berkecamuk Adam membanting badannya di kasur empuk miliknya, setelah menjatuhkan badannya ke kasur empuk miliknya bukan makin tenang yang ia dapat melainkan semakin tidak tenang.
Apalagi, jika mengingat kata-katanya yang diucapkan ke Ayra, dadanya pun terasa sesak. "Apa yang aku lakukan, sungguh membuatku gila" Ucapnya
****
Sedangkan di tempat berbeda Ayra, masih menangis dan mencoba untuk menenangkan dirinya dari amukan sang majikan, dia beranjak menuju kamarnya, tanpa berpikir panjang dia mengemas semua barangnya dan menyisakan barang yang tidak perlu, karena Ayra betekat setelah subuh dia akan meninggalkan istana kusuma, sudah dirasa cukup dia menggantungkan nasibnya ke istana ini.
karena kejadian tersebut mata Ayra sama sekali tidak bisa tidur karena berharap malam cepat berlalu dan dia bisa meninggalkan tempat ini secepat mungkin. Ditengah lamunannya, suara tangisan Juna terdengar jelas, tanpa pikir panjang dia pun berlalu kamar Juna, benar saja sampai di kamar Juna, Juna sudah terlihat lelah untuk menangis dan terlihat Adam menatapnya dengan intens
Ayra mencoba menghela nafasnya dan tanpa menghiraukan seonggok manusia yang sedang menatapnya. Ayra mengambil Juna yang sedang dipangku oleh Maya dan tanpa pikir panjang diapun memberi asi ke Juna dengan membelakangi Adam
“Apa sudah lama Juna menangis May, kenapa kamu tidak panggil saya”
“A-n-u, Ay, maya yang tidak tahu menahu tentang masalah majikan dengan Ayra ikut terdampak. Sebenarnya Maya sudah, bilang sama tuannya kalau Juna butuh Ayra, namun belum sepat Maya menyebut nama Ayra, sorot mata tajam Adam seakan-akan akan menelannya hidup-hidup. Bahkan dirinya dia acam, kalau tidak bisa membuat Juna terdiam akan dipecat.
“Tinggalkan kami” mata tajam itu mengarah kembali ke arah Maya, membuat Maya langsung pergi begitu saja
Sedangkan di sisi lain, Ayra masih mencoba menenangkan Juna dengan sisa tangis karena sudah terlalu lama menangis.
“Tidak apa-apa sayang, anak pintar” sembari memberi asi Ayra menenangkan Juna.
Adam terus memperhatikan interaksi antara dua manusia di depannya, tanpa rasa malu dan canggung, karena ini adalah kali kedua dia melihat Ayra memberi asi ke Juna secara langsung di depan matanya.
1 jam berlalu Juna sudah terlelap kembali, namun dia tidak mau melepaskan Ayra dari dekapannya seakan dia tau kalau Ayra ingin pergi meninggalkannya.
******
Ayra meninggalkan kediaman Adam
*******
Setelah Juna tertidur, Ayra beranjak pergi begitu saja tanpa menghiraukan seorang manusia yang memperhatikannya dari tadi. Ayra menuju kamarnya, mengambil barang yang sudah dikemas dan berjalan perlahan meninggalkan rumah Adam, sebelum penghuni rumah bangun,
Adam yang tidak tidur, memperhatikan langkah demi langkah Ayra meninggalkan istananya.
****
Setelah pergi Ayra, sungguh tidak ada tempat tujuan. Karena setelah kepergian sang mama dia sudah pindah dari tempat tinggal sebelumnya ke tempat kediaman Adam tanpa menduga jika akan terjadi hal seperti ini sampai kontraknya selesai. Jadi setelah berjalan cukup jauh untuk menemukan taxi,
“kita mau kemana neng, ucap supir taxi” karena mereka sudah cukup berjalan lama dari tempat ayra menemukan taxi,
“Pak, nanti kalau ada atm, berhenti sebentar ya aku mau ambil uang, setelah itu kita pergi ke pemakaman Melati ya”
“Baik, bu”
Perjalanan yang lumayan, akhirnya mereka sampai ke tempat yang dituju, kedua kakinya mulai menelusuri tempat kediaman orang yang sangat ia cintai. Tapi seakan langit tidak berpihak kepadanya, tiba-tiba hujan deras.
Meskipun hujan tidak bersahabat dengannya, tidak menghentikan langkahnya untuk mencurahkan isi hatinya kepada dua makhluk Tuhan yang sudah tenang melihatnya dari surga.
Sekarang sekujur tubuhnya sudah basah dan sedikit mengigil, namun dia masih memeluk nisan orang tuanya. Tanpa dia sadari, sepasang mata yang dari sudah mengawasinya, mulai emosi.
Dasar perempuan bodoh ucapnya, sambil keluar dari mobil yang diikuti oleh bawahannya menuju ke arah perempuan tidak berdaya didepanya.
Dengan sedikit kekuatan ditariknya, namun yang ditarik tidak bergeming dan mencoba memberikan perlawanan.
"Mau apa kamu kesini? ucap Ayra, sambil menepis tangan Adam, "Pergi.. aku bukan lagi orang bisa kamu perintah, Pergi"
Adam yang sudah emosi dari tadi dengan tingkah Ayar. Dengan tanpa peermisi Adam menunduk dan mengangkat tubuh kecil yang keras kepala seperti dirinya. "kontrak mu, belum habis ucap dan jika kamu mau pergi kamu harus kuat agar aku tidak menemukan mu" dengan tanpa persetujuan dia mengangkat tubuh mungil itu kedalam mobilnya.
Didalam mobil Ayra mencoba memberontak, dengan mengelurkan caci maki ke Adam yang terlihat tenang. Asisten yang didepan yang mendengar caci makian Ayra sedikit merasakan ngeri.
Selama menjadi asisten Adam, baru pertama kali di mendengar ada yang mengungpat Adam. dengan kata "Dasar sialan, mesum, tidak tau mau" teriakan dan cacian pun itu tak henti hentinya keluar dari mulut kecil Ayra sampai tenaganya perlahan habis akibat melakukan perlawanan dengan Adam, selain itu perutnya belum disini makanan dari pagi dan juga pakaian yang dikenakan saat ini sudah basah akibat kena hujan. Adam sudah mencoba memberinya mantelnya, namun ditepis. Akibatnya Adam hanya diam menikmati perberontakan dari Ayra sampai kediamnnya.
Tidur bersama
*****
Setelah mengganti seluruh pakai Ayra dan memeriksakan Ayra dengan dokter pribadinya. Adam perlahan naik ke atas tempat tidur yang sama dia mencoba mendekap Ayra. Untung malam ini Juna, sedikit tenang, jadi tidak mengganggu waktu Ayra.
Ayra yang dari tadi mengigau memanggil orang tuanya akibat demam yang terlalu tinggi sudah sedikit tenang. Adam dengan telaten mengompres berharap demamnya akan segera turun dan mencoba mendekap Ayra dengan pelukan agar sedikit tenang sekarang sudah terlelap bersama Ayra.
Entah karena lelah atau memang merasa nyaman, dua insan yang masih dalam peseteruan terlihat damai dalam pelukan satu sama lain, seakan tidak terpisahkan sampai matahari perlahan keluar menampakkan cahayanya.
Saat sang wanita terbangun dia sudah berada di kamarnya dan sepertinya malam ini tidur sangat lelap sehingga saat dia membuka mata matahari sudah sedikit mengintip melalui jendela kamarnya.
Namun saat sadar Ayra baru ingat kejadian kemaren, pertengkarannya dengan Adam, caci dan maki yang keluar dari mulutnya dan sekarang dia sudah kembali di rumah Adam dan pakainya pun sudah diganti.
"Siapa yang mengganti pakaian ku?" Ayra mencoba berdialog dengan dirinya, karena yang ia ingat terakhir kali pakaiannya basah terkena hujan saat di berdebat dengan lelaki itu. "Aku harus bertanya dengan Maya"
Baru saja menyebutkan nama Maya, saketika gadis itu muncul di depan pintu sambil membawa nampan yang berisi sarapan pagi untuknya.
"Ayra,, syukurlah kamu sudah bangun, kamu pusing Ayra ? atau ada yang sakit?" seketika Maya bertanya tanpa henti saat tau jika Ayra sudah sadar kembali.
"Pertanyaan Mu yang membuat aku sakit kembali Maya"
"Ah maaf Ay" Ucapa maya tersenyum cantik "Bagaimana tidur, apakah nyenyak semalam, kamu mimipi apa? tanya maya sedikit penasaran "oh ya ini sarapan mu tuan putri, aku disuruh Tuan membawa makanan untuk Mu"
Ayra yang makin pusing dengan runtunan pertanyaan dari Maya, mencoba mengabaikan pertanyaan dan malah bertanya balik dengan maya. "Tidak mungkin lelaki berengsek itu kan kan May?", tanpa sadar Ayra membuat Maya terkejut dengan panggilannya dengan tuannya karena selama ini Ayra selalu berkata sopan.
“Maksud kamu tuan, lelaki berengsek Ay?” ucapan Maya menggoda dengan kedipan mata ke arah Ayra.
Dengan susah payah Ayra menelan ludahnya, kenapa dia terlalu ceroboh menyebut tuan dirumah dengan panggilan lelaki berengsek, namun lelaki berengsek lebih pantas panggilan nya dibanding tuan “tentu hanya bisa Ayra ucapkan di dalam hati, tidak mungkin dia bilang langsung ke Maya.
“Maksud aku, apakah benar tuan menyuruh kamu untuk mengantarkan makan ke kamar aku. kenapa bukan dia?”
Tanpa sadar kedua kalinya Ayra salah dalam menyebutkan kata-kata membuat mata dan mulut Maya semakin lebar seperti sinchan yang sedang kena marah sama ibunya
“Emang masih kangen ya Ay, kan semalam kalian sudah bersama! apa perlu aku panggil tuan kesini? Maya semakin menjadi-jadi karena mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut Ayra.
“Tu..an” tanpa aba mulut tidak tau malu Maya menyerukan nama yang paling di segani oleh orang. Seketika Ayra loncat, dan langsung membekap mulut Maya dengan perasaan campur aduk dan juga takut ada yang mendengar mereka.
Namun tanpa mereka sadari, lelaki yang menjadi peran utama dalam perbincangan mereka melihat apa yang mereka lakukan.
******
Namun tanpa mereka sadari, lelaki yang menjadi peran utama dalam perbincangan mereka melihat apa yang mereka lakukan.
Sedikit senyum yang selama ini tersembunyi di bibir kegelapan wajah yang tegas itu, sudah mulai berseri dan sedikit sudah mencair.
Seakan tidak ingin kehilangan momen yang membahagiakan itu, dia terus berdiri didepan pintu seperti penguntit mendengar setiap godaan yang terlontar dari mulut Maya yang membuat Ayra dilanda was-was.
Adam terbangun karena matahari pagi, lalu langsung memeriksa keadaan Ayra, setelah dirasa Ayra sudah baik-baik saja dia langsung pergi karena takut dengan kemarahan Ayra dan dia tidak mau terlihat canggung di depan Ayra, namun sebelum dia meninggalkan Ayra. Adam menyempatkan untuk memberikan kecupan di kening Ayra.
Saat keluar kamar Adam bertemu Maya dan memerintahkan Maya untuk membawa sarapan untuk Ayra, Adam tidak mau Ayra sakit lagi.
*****
1 minggu berlalu dari kejadian di kamar juna, Ayra tidak pernah lagi bertemu dengan Adam. Lelaki egois itu tidak pernah menampakkan dirinya bahkan saat ini pun tidak ada tanda-tandanya dia memasuki ruangan yang sudah tersedia banyak makanan.
Lelaki itu juga tidak pernah terlihat berkunjung ke kamar Juna saat dirinya ada di sana.
"Apa lelaki kutub itu benar-benar marah ya?"
Etah tiba-tiba rasanya ada yang kurang saat tidak mendengar kebawelan dan tatapan intimidasinya yang sejatinya untuk kebaikan dirinya.
"Bu tuan Adam, apa dia pergi keluar kota? Kenapa dia tidak pernah terlihat, bertemu Juna pun tidak pernah terlihat?
Karena rasa penasaran , akhirnya Ayra memberanikan dirinya untuk beratnya ke Nina setelah menyelesaikan makan malam yang terasa hambar tanpa ada wewejang dari lelaki kutub.
" Tuan tidak sedang berada di luar kota, Tuan ada di kamarnya, hanya saja Tuan merasa kurang sehat. Makanya makanannya biasa diantar ke kamarnya" Nina menjawab seadanya, sambil menyuruh salah satu pelayan untuk mengantarkan makan malam ke kamar Tuannya.
Aylia sedikit tidak percaya kalau lelaki es batu itu bisa sakit.
"Apakah benar dia sakit? rasanya aneh saja semenjak tinggal di istana Adam, Ayra tidak pernah sekalipun mendengar kalau lelaki itu sakit.
Kening wanita itu berkerut masih mencoba mencerna yang dibicarakan Nina, sambil memikirkan sesuatu.
"Bu. biar aku saja yang mengantar makanan tuan Adam, " Usulnya meskipun di hatinya masih ada rasa ragu, jika benar adam sakit ia sedikit merasa bersalah dengan Tuannya. Karena sejak kejadian Adam memergoki diriya yang sedang asik bertukar canda tawa dengan Raka dan berakhir dengan Adam berteriak di depan Juna, lelaki itu langsung pergi dan menghilang bak ditelan bumi.
Ayra mengambil alih napan yang dipegang salah satu pekerja dirumah yang sudah siap untuk menjalankan tugasnya.
"Apa kamu yakin mengantarkan makanan ke kamar Tuan?" Tanya Nina dengan tatapan datar.
Tatapan Nina sama seperti tatapan Adam mengintimidasi, sehingga semua pekerja di rumah segan dengan Nina selain dia adalah senior dia juga adalah orang kepercayaan Adam, jadi perintahnya sama dengan perintah Adam.
Sambil memejamkan matanya Ayra mengangguk meskipun masih ada sedikit ragu dihatinya untuk berhadapan kembali dengan lelaki es setelah 1 minggu tidak bertemu.
Namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya saat kakinya sudah menginjak 2 mata tangga kemudian berbalik arah menghadap Nina kembali.
"Maaf, Bu. Bisa tunjukan arah kamar Tuan." Ucapnya sambil meringis.
Nina kembali menatap Ayra dengan datar dan rasa tidak percaya.
"Sudah hampir setahun kamu bekerja disini dan kamu tidak tahu dimana kamar Tuan Adam?" Nina sungguh tidak percaya, yang hanya di balas anggukan dan wajah tanpa dosa oleh Ayra .
Nina dengan masih muka datarnya sambil menggeleng tidak percaya, di saat hampir semua pelayan yang bekerja di rumah ini ingin mengetahui rumah kamar pribadi Adam, bahkan di hari pertama makan menginjakkan kaki di rumah untuk bekerja.
Ayra dengan bodohnya tidak tau kamar utama Tuannya setelah hampir setahun menjadi pengasuh dari Tuan Muda Juna.
Disaat semua orang penasaran dan bahkan berlomba-lomba, untuk mencoba keberuntungan untuk bisa menduduki tahta menjadi nyonya di istana Tuan Adam yang super mewah dan megah.
"Dari kamar Tuan muda, kamu lurus saja. Hanya terhalang ruangan santai tanpa pintu, bila kamu sudah menemukan pintu ruangan persis sama dengan kamar Tuan Muda, itu adalah kamar Tuan Adam" Nina mencoba menjelaskan dengan tenang sambil menggerakan tangannya seolah menunjukan arah.
Kembali Ayra mengangguk, sebelum dirinya melangkah untuk mengantar makanan Temannya sekalian minta maaf atas kejadian tempo hari, sungguh dia merasa bersalah karena menerima panggilan disaat siang hari dan jam kerjanya.
Saat kakinya menginjak ke lantai dua, tentu ruangan yang pertama kali ia temui adalah kamarnya kemudian dilanjutkan kamar Juna.
Dari kamar Juna, Ayra melanjutkan langkahnya sesuai dengan petunjuk Nina. Katanya setelah ruang kaca tanpa pintu.
Ayra menghentikan langkahnya di ruang berdinding transparan sehingga langsung terlihat pemandangan di luar. Ada sofa dan televisi berlayar besar yang tergantung dinding dan semua benda termasuk dinding dominan warna gelap.
"Mungkin ini yang disebut Nina ruang santai" lirih Ayra
Sungguh baru Ayra sadari kalau di lantai yang ditempati, hanya ada 3 ruang dan tidak ada ruangan lainnya selain kamarnya, kamar Juna dan terakhir ruangan yang saat ini tempatnya berdiri. Walaupun ruangnya dilantai yang sama dengan kamarnya dan Juna, tetapi Ayra belum pernah kesini. Ia memang tidak pernah menggunakan ruangan yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan dirinya karena dia takut jika Bosnya marah.
Sesuai dengan petunjuk dari Nina, akhirnya Ayra menemukan pintu yang dia cari karena pintunya sama persis dengan pintu kamar Juna. Pasti ini, pikirnya karena tidak ada lagi pintu di ruang itu.
Wanita itu menarik nafas panjang sebelum sebelah tangannya mengetuk pintu yang diyakininya adalah pintu kamar lelaki itu.
"Tuan, saya ingin mengantar makanan malam anda." Ucap Ayra dengan suara yang sopan karena tidak ada nada kesal dan masih terdengar sangat ramah.
" Tu-an, saya membawakan makan untuk anda!" setelah beberapa kali wanita itu mencoba memanggil sang pemilik ruangan, namun tetap tidak ada jawaban. Dengan ras yang sudah tidak sabar karena dari tadi hanya keheningan dan sunyi menemaninnya. Akhirnya Wanita itu merasa khawatir dengan pemilik ruangan.
"Kenapa tidak ada jawaban, apa dia sakit parah? atau tidak sadarkan diri? atau dia? ah kenapa dia sangat khawatir padahal yang ingin ditemui adalah orang paling menyebalkan di muka bumi.
Dengan mengesampingkan egonya karena rasa khawatir, akhirnya Ayra memberanikan diri membuka pintu dengan perlahan seperti pencuri karena kamar sang Tuan ternyata tidak terkunci.
Sambil meletakan makan di atas mejah di depan pintu, Ayra mencoba menelusuri ruangan dan matanya melihat keadaan sekitar mencoba mencari yang punya ruangan karena dalam bayangan yang pertama kali tubuh besar Adam terbaring di kasur empuknya dengan nyawa sudah diujung kuku atau lelaki itu ambruk di sekitar tempat tidur dan sudah tidak bisa berdiri lagi.
Mungkinkah Adam mengidap penyakit parah yang ia tidak tau, ya itu bayangannya. Namun.....
"A-aaaaaaaaaaaaaaaaaaa" Ayra kaget saat kakinya menginjak ke ruangan yang di yakininya adalah ruangan pribadi Adam. Sepasang mata yang suci dengan bola mata yang indah dan lututnya terasa lemas sekitar tidak bisa bergerak saat melihat pemandangan di depan matanya sehingga nampan yang berisi makanan jatuh hampir mengenai kakinya
Bagaimana tidak?
Tubuh yang dibayangkan tidak berdaya dan tengah terbujur kaku, sedang berdiri tegak dengan santainya hanya menggunakan celana pendek lebih tepat underwear, tubuhnya hanya tertutup bagian belakang oleh handuk kimono yang tidak terikat sehingga sangat terbuka bagian depannya dan terlihat semua seluruh bentuk tubuhnya yang atletis terekspos sempurna. Hanya bagian berharganya saja yang terbungkus kain minim.
"Tu--an.... apa yang anda lakukan" Suara gemetar Ayra terdengar pelan yang masih bisa didengar oleh pemilik ruangan.
****************
"Tu--an.... apa yang anda lakukan" Suara gemetar Ayra terdengar pelan yang masih bisa didengar oleh pemilik ruangan.
"Apa yang anda lakukan" Adam mengulangi apa yang dikatakan Ayra sambil berdiri tidak percaya ada yang bertanya apa yang dia lakukan di ruangan sendiri.
"Harusnya aku yang bertanya Ay, apa yang kamu lakukan di kamar ku?" desis Adam, dengan santainya lelaki berambut basah dan hampir dibilang telanjang terus melanjutkan kegiatannya tanpa membenarkan kimono yang ia pakai untuk menutupi tubuhnya dia terus berjalan menghampiri Ayra yang terlihat mematung.
"Kamu mengotori kamar ku Ay" lanjut Adam dengan suara lembut tanpa ada tanda kemarahan dengan menunjuk ke arah makanan yang sudah berserak di lantai kamarnya bahkan sedikit mengenai permadani berwarna gelap yang terlihat mahal itu.
"Ma-af Tu-an, sa-ya tidak sengaja, akan saya bersihkan Tuan jangan khawatir." Suara Ayra masih terdengar bergetar saat wanita berbalik dan langsung bersimpuh mencoba memunguti pecahan isi nampan yang terjatuh dan sudah berbentuk puing-puing diantara makanan iya bawa.
Melihat itu, mata Adam semakin melebar
"Hentikan Ay, apa yang kamu lakukan? Berhenti melakukan itu! Suruh pelayan yang membersihkannya!"
"Tidak Tu-an, saya akan bertanggung jawab dari kekacauan yang saya buat" jawab Ayra tanpa melihat Adam sudah terlihat seperti singa yang akan menerkam mangsanya.
"Aku bilang hentikan Ayra ." pekik Adam lagi dengan suara lantang meskipun jarak mereka sudah sangat dekat bahkan Adam sudah berdiri tepat di belakang Ayra .
Ayra semakin gugup saat mendengar lantunan teriakan Adam, apalagi sekarang jarak mereka sudah sangat dekatnya, wangi sabun dan shampo yang digunakan oleh Adam dapat tercium sempurna oleh indranya belum lagi tampilan Adam yang hanya mengenakan kimono tanpa diikat "Ah pokoknya membuat Ayra semakin mati kutu tidak bergerak.
Tanpa ragu Adam mengangkat tubuh mungil Ayra dan meletakkannya ke atas kasur empuk miliknya, setelah memastikan tangan Ayra aman dari pecah beling. Adam berdiri mengambil tisu untuk membersihkan bekas makanan yang tak sengaja menempel di tangan Ayra.
Dengan hati-hati Adam mengusap dan membersihkan sisa makanan yang menempel di tangan kecil Ayra.
"Tidak usah Tu-an" Ayra menarik tangan yang dipegang Adam dengan kasar dan suara gemetar. Apalagi saat mata mereka tak sengaja bertemu, dengan sorot mata yang berbeda.
Terlihat jelas mata lelaki itu menatap Ayra dengan rasa marah dan sangat menakutkan, dia semakin mendekat tubuhnya ke tubuh Ayra yang ada di depannya. Ditariknya pinggang ramping Ayra sehingga tidak ada jarak lagi diantara mereka.
"Kau milik ku Ayra" masih dengan sorot mata yang sama lelaki dengan intens menatap wanita yang ada di dalam dekapannya.
"Pastikan, tidak ada yang terluka pada tubuh mu. Kalau terjadi sesuatu aku tidak akan memaafkanmu" ucapnya kembali mengintimidasi tubuh mungil itu yang dari tadi menundukan dengan gemuruh jiwa tak karuan.
Jujur ini pertama kali Ayra bertatapan langsung dengan sang majikan, dalam dekat dan seintim itu meskipun sebelumnya?
Tiba-tiba Adam mensejajarkan muka mereka dan tanpa aba-aba "Cup,,,,,," bibir yang sejak tadi ia pandangi sudah bertemu dengan bibirnya yang terbuka karena mendengar apa yang dikatakan Adam.
Adam melahap bibir kaku Ayra dengan ganas seakan tak ingin terlepas lagi, bahkan Adam semakin memperdalam tautan bibir mereka. Bibir Ayra bagai candu bagi nya, sejak cium mereka di kamar Juna Adam tidak pernah melupakan itu, bahkan ia selalu merindukan bibir yang tidak pernah terjamah selain oleh dirinya.
Ya bibir mungil Ayra tidak pernah terjamah, Adam sangat tau kalau yang dilakukan di kamar Juna adalah ciuman pertama bagi Ayra. Dengan pengalaman Adam yang tak sedikit dengan para wanita dia tau persis kalau mereka lakukan adalah pertama bagi Ayra, karena Ayra sangat kaku bahkan wanita itu tak kuat menghadapi paksaan Adam yang memang sudah bertualang ke mana dan berakhir dengan Renata sang mantan istri.
Ayra mulai bertingkah memukul bentuk perlawanan kecil yang dirasa Adam, untuk upaya menyelamatkan dirinya dari terkaman lelaki di depannya.
"Tuan lep-as!" Ayra mencoba memberikan perlawanan kembali bahkan tangannya memukul dada bidang telanjang milik Adam yang tidak bergerak meskipun sedikitpun dan tidak terpengaruh oleh pukulan kecil Ayra.
Namun tanpa disadari apa yang dilakukan Ayra bukan membuat Adam berhenti, tapi membuat jiwa lelaki Adam yang selama ini terpendam karena pengkhianatan oleh sang mantan istri dan sahabatnya. Kini mulai bangkit kembali.
Sesuatu yang sudah lama terpendam kini bergejola kembali, sungguh ini sesuatu yang sangat menakjubkan karena selama ini Adam menutup dirinya. sebagai seorang laki-laki yang bebas bahkan pernah mempunyai istri tentu Adam butuh kesenangan. Namun berbagai cara yang lelaki itu lakukan tidak membakitkan gelora kelakian.
Seakan mati rasa, bahkan Ryan teman sekaligus dokter pribadi Adam mengatakan kalau lelaki itu tidak normal lagi karena adiknya tidak bisa berdiri dan terlalu lama berdiam. Tentu yang disampaikan kan Ryan dengan nada ejekan dan candaan, yang membuat lelaki itu semakin emosi.
Namun apa yang selama ini dianggapnya aneh, dengan pukulan dari tangan kecil Ayra membuatnya bangun kembali dan meminta lebih.
"Tu-an" ucap wanita itu lirih saat bibir Adam terlepas sambil tangannya mengenal jarak diantara mereka
"Aku mohon" ucapnya kembali kini
Lelaki yang penuh gairah tersenyum miring, kemudian mendaratkan kembali bibirnya. Namun tidak seberutal sebelumnya hanya sebuah kecupan sebelum dia bangkit dari wanita yang tak berdaya di hadapannya.
"Maaf, aku tidak bisa menahannya Ay"
*******
"Maaf, aku tidak bisa menahannya Ay" Adam menyudahi apa yang dia yang dia impikan sebelumnya dia benar-benar khilaf dan menerkam gadis mungil di depannya.
kemudian dia menutup bagian badannya dengan kimono, dia tidak ingin Ayra melihat sesuatu yang akan membuatnya malu.
“Katakan kenapa kamu yang mengantar makanan ku Ay, kenapa bukan pelayan?” Adam sudah mengubah posisinya berhadapan dengan Ayra saat dia mengintimidasi dengan berbagai pertanyaan.
Sedangkan yang ditanya masih terlihat shock dan kaku dengan apa yang sudah terjadi, Ayra mencoba mencerna apa yang terjadi dengan dirinya dengan boss gilanya.
“Dia mengklaim, aku miliknya, dan apa yang barusan dilakukan dia pada ku. Dia mencium ku dengan paksa dasar bajingan”
“Ay, panggil Adam karena melihat lawan bicara tidak ada tanggapan sekalipun Adam berbicara panjang lebar.
“Ay, apa yang kamu pikiran” Panggil adam kembali membuat Ayra terkejut.
****
Setelah kejadian di kamar Adam tempo hari, Adam tidak pernah muncul di hadapanan Ayra bukan karena dia merasa bersalah namun dia tidak bisa menahan gejolak yang ada pada dirinya yang lelaki itu pendam selama ini jika berhadapan dengan Ayra.
Entah kenapa Adam, selalu saja kalah jika dihadapkan dengan Ayra. Adam adalah lelaki normal dan semenjak bercerai dengan sang istri dia tidak pernah mendapatkan nafkah batin, bukan tidak mendapatkan lebih tepatnya tidak ada yang bisa membuatnya bangkit. Sehingga saat bertemu Ayra dia ingin meluapkan, namun dia masih menghargai gadis kecil itu dia tidak ingin membuat Ayra membencinya.
Jadi Adam mulai menyibukan dirinya dengan kerjaan kantor yang menumpuk dan bahkan pulang larut malam. Sesekali dia mengunjungi Ayra dan Juna di kamar. Namun tidak berlangsung lama hanya memastikan kalau mereka baik-baik saja. Setelah memastikan mereka baik-baik, dia akan pergi belalu meninggalkan mereka.
Namun yang tidak mereka tau, jika Adam memantau mereka melalui CTV yang ada di kamar juna
****
"Senyum, sayang!"
Seketika Ayra melirik Adam dengan kesal sebelum memasang senyum palsu, namun dimata yang lain termasuk Adam senyum Ayra sungguh indah.
Bagaimana tidak Adam jatuh cinta, lihat saja senyum palsu terlihat indah di matanya
"Terima kasih sayang" bisik lelaki itu ke telinga Ayra, hanya dibalas kerlingan mata dan tatapan aneh oleh Ayra. Dia tidak mau terpancing emosi di depan semua yang menyaksikan merekam saat lelaki yang tidak humoris itu mencoba bertingkah lucu.
Menjadi milik Tuan Adam
******
"Ayo ikut! ada yang ingin aku bicarakan tentang pernikahan kita!" Adam yang sebenarnya dari tadi sudah ada di kamar Juna, tanpa sepengetahuan Ayra yang sedang membaringkan tadi sibuk dengan Juna dan saat ini wanita itu sedang membaringkan Juna ke dalam Box-nya dengan hati-hati takut tidurnya terganggu.
Setelah lamaran tempo hari, akhirnya mereka merencanakan pernikah. Bukan! bukan mereka lebih tepatnya Adam sendiri yang tertarik bahkan tidak sabaran ingin segara menjadi Ayra Mama dari Juna dan tentunya menjadi istrinya.
Cukup, sudah terlalu lama Ayra membuatnya menunggu. Kali ini tidak akan dibiarkan wanita itu pergi bahkan nanti Adam berencana untuk mengurang wanita keras kepala itu dalam kungkungan nya.
Ah pokoknya sudah banyak yang Adam rencanakan. Adam membayangkan dengan senyuman tanpa sepengetahuan Ayra
Sedangkan bagi Ayra, pernikahan ini lebih ke pemaksaan, jadi baginya pendapatnya tidaklah penting.
"Kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan,Tuan? Saya ikut saja apa kata Tuan?
Adam yang sudah ingin melangkah, sekitar berhenti dan menoleh kembali ke arah wanita yang sedang berdiri di dekat box tidur puntranya.
"Ini pernikahan kita Ai, yang akan menikah kita berdua. Aku tidak mau kamu hanya menerima beras dan membiarkan aku capek sendiri" Adam mencoba menjelaskan dengan tatapan tajam ke wanita yang dari tidak membuang pandangan darinya. Entah apa yang sedang dia pikirkan
"Kita bicara di sini aja atau kita bicara di balkon gimana" usul Ayra yang tidak mau berdebat panjang dan mencoba mengalah.
Namun Ayra lupa berbicara dengan siapa, Adam tidak pernah menurunkan egonya apa lagi yang ia rasa yang dilakukannya benar.
"Kalau kita berbicara di ruangan ini, nanti kita akan membuat Juna terganggu. Sedangkan kalau di balkon, tentu tidak bisa! ada banyak yang ingin kita bicarakan dan aku tidak mau membuat kaki pegal kalau harus berdiri lama disana"
Ayra sedikit mengangkat kepalanya, saat mendengar Tuannya yang terlihat sedikit lebay di telinga.
"Ikut, aku" ucapa Adam dengan diikuti kakinya yang sudah mulai melangkah dan tangannya sudah ingin menggapai pegangan pintu.
"Kalau Juna, menangis gimana?" Ayra mencoba bernegosiasi
"Ikut, aku Ai!, apa kamu mau aku gendong agar keras kepalamu sedikit berkurang?' Adam mulai menaikan intonasi suaranya pertanda dia tidak senang di batah dan mulai melanjutkan kembali langkahnya yang sempat tertunda.
"Nanti, Maya akan ke kamar Juna. Jika itu yang kamu khawatirkan." ucapan Adam di sela perjalan mereka karena Ayra sudah mengikuti langkah Tuannya setelah sebelumnya menarik nafas panjang.
Sungguh walaupun sudah ingin menikah, tetapi sifat mereka tidak berubah masih seperti Boss dan pekerja. Adam tidak menunjukan sikap romantisnya selain waktu ia melamar Ayra. Setelah itu kembali dengan sifat aslinya dingin dan kaku seperti manusia robot saja.
Terkadang Ayra bingung sendiri, bagaimana nasib pernikah yang akan dijalankannya nanti, bila mereka berdua tidak pernah satu pendapat lebih langi jika setelah pernikahan sikap Adam tidak berubah?
Karena jalan dengan terus melamun dan berperang batin dengan dirinya atas nasib pernikahannya nanti.
Ayra tidak sadar kalau ia mengikuti Adan ke arah ruangan Pribadi yang sempat membuatnya terkurung selama satu malam karena Adam tidak mengizinkan dia keluar dan dengan bodohnya kini sudah berdiri diambang pintu.
"Kenapa kita harus berbicara di sini Tuan?" protes Ayra setelah tersadar dan melihat ke arah Adam yang sudah melepaskan kemeja putihnya dan melemparkan baju itu ke dalam sebuah keranjang berwarna hitam gelap itu.
"Kamu kenapa Ai,, bukankah ini akan menjadi kamarmu sebentar lagi? Aku hanya ingin bertanya apa harus dirubah dari kamar ini?" Adam beseder sambil melempar senyum ke arah Ayra.
Kening Ayra berkerut dengan diikuti oleh kedua mata yang terlihat sedikit membesar karena perubahan mimik wajahnya. Bukankah Adam ingin membahas tentang pernikahan mereka? kenapa malah bertanya konsep kamar yang menurutnya tidak ada yang salah dari pengaturan ruangan yang saat ini tempatnya berpijak.
"Ayo masuk Ayra" suara Adam menarik kesadaran Ayra kembali
Ayra masih berdiri didepan pintu, namun Adam menarik Ayra masuk yang masih terlihat kaku. Kemudian lelaki itu menutup Pintu dan melemparkan kuncinya ke sembarang tempat. Menghadirkan sedikit rasa was was di hati Ayra.
"Sebentar lagi kita akan menikah, bukan? Kau lihat kamar ini hanya terdiri dari warna gelap! Aku mau minta saranmu, apa yang harus diubah, aku takut kamu tidak suka dengan warna seperti ini Ayra? Apa yang yang perlu diubah agar membuat nyaman dan betah di kamar ini seperti kamu betah di kamarnya Juna? Apa aku harus mengubah warna sama persis kamar Juna Ai? Adam mendekat masih dengan seutas pertanyaan semakin mendekat ke arah Ayra dengan seulas senyum yang jarang terlihat di bibirnya.
Entah kenapa Ayra terlihat takut melihat senyum di wajah itu, bahkan Ayra sampai mundur menghindar dari Adam
"Kenapa?" Adam mengangkat tangannya "Ayolah Ai, jangan tegang seperti itu aku bukan hantu Ai. Kita sebentar lagi akan menikah bahkan tidak sampai satu minggu lagi bukan?"
Ayra mengerjap, sambil membuang pandangannya. Entah kenapa dia tiba-tiba jadi beku dan dadanya terasa sesak, terlebih melihat lelaki bertelanjang dada dan semakin dekatnya. Sebenarnya bukan semakin dekat, memang mereka sudah dekat bahkan tangan Adam yang sepat menariknya sudah berada di pinggang rampingnya.
"Jadi, kamu suka kamar seperti apa?" Tanya Adam kembali dan semakin maju. Sementara Ayra karena takut dia semakin mundur hingga punggung terbentur dinding.
"Ah kenapa harus ada dinding disini" guman Ayra" Saya terserah Tuan, saya ikut tuan bagusnya seperti apa." Jabab Ayra gugup
"Jangan terserah aku, Ai. Aku mau kamu ikut kontribusi dalam mendekor ruangan ini karena mungkin kita akan lebih banyak menghabiskan waktu dikamar, agar tidak cepat bosan dan kamu memilih kabur nantinya." Tanya Adam lagi, kali ini memindahkan tangannya ke tangan mungil milik wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
"Tunggu, kenapa tanganmu sangat dingin Ay? Ayolah, jangan tegang! santai saja sebentar lagi kita akan menjadi suami istri bukan? oh ya ubah panggilan mu, aku tidak suka dengan panggilan mu itu, aku tidak mau kamu memanggilku dengan sebutan Tuan. Jika aku dengar kamu memanggil aku dengan sebutan Tuan, aku pastikan kamu akan mendapat hukuman Ay. Ucapan Adam dengan suara lembut
Wajah Ayra memegang, bahkan tangannya semakin terasa mendingin. Pernikahan dengan Adam belum dimulai sudah ada ancaman yang keluar dari mulut lelaki itu.
Wanita itu mencoba tenang dan menelan salivanya dengan susah payah saat Adam sudah benar dekat dengannya sehingga dadanya dengan dada lelaki itu sudah bertemu hanya di berbatas oleh kain penutup tubuh Ayra sedangkan Adam sengaja bertelanjang dada.
"Tuan,,, Anda mau apa?" tanya Ayra yang sudah sangat ketakutan, apa lagi dengan jarak mereka sangat dekat Adam menatap Ayra dengan sangat intens. Muka memerah, bahkan ada sedikit keringat yang muncul di wajah cantiknya meskipun di ruangan ini ber AC dan Ah kenapa bibir mungil sedikit terbuka.
"Tu-an ....." Dengan sisa keberanian yang ada, Ayra memalingkan wajahnya dan tanggannya menahan bibir Adam yang nyaris bersentuh dengan kulit wajahnya.
"Kenapa Ay?" bisik Adam serek tepat di telinga Ayra sambil bibir yang tidak bisa bersentuhan dengan wajah Ayra sekarang berpindah ke leher jenjang Ayra, setelah berhasil menangkap tangan Ayra yang menutup bibirnya. "Bukankah kita akan segera menikah? " Adam bertanya sambil menyerap aroma tubuh wanita yang ada dalam dekapannya.
Ayra memejamkan mata, terlebih saat merasakan sesuatu yang basah menempel di lehernya ditambah suara serak dan tatapan Adam yang...ah, Ayra bukan wanita polos dan tidak tahu apa yang diinginkan lelaki itu darinya.
"Iya, Tu-an. Kita akan segera menikah, baru akan dan ingat kita belum me-ni-kah Tu-an." Ayra memberikan penekan kalau mereka belum menikah agar Adam segera melepaskannya karena keadaan mereka sangat rentan
"Kau milik ku Ai, dari saat kamu menerima ini" Adam mengangkat tangan Ayra yang terdapat cincin, bahkan saat kamu setuju menjadi pengasuh Juna kamu adalah milikku Ay. Tanpa aba-aba kemudian Adam menempelkan bibirnya ke tangan mungil yang terdapat sebuah cincin permata..
"Tapi,,, Tu-an!" sebelum Ayra menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah di lahap oleh lelaki sejak tadi sudah bertingkah dengan rakusnya.
Ayra memberikan penolakan dengan cara mendorong tubuh besar yang sedang berada sejajar dengannya, tapi tenaganya tidak lebih kuat. Adam terus mencium Ayra dengan rakus, bahkan dia tidak membiarkan Ayra bergerak sedikitpun, ia mengunci tubuh kecil dengan tangan besarnya.
"Ini hukuman Ai, karena kamu masih berani memanggil aku dengan sebutan Tuan" Adam berucap di sela tautan bibir mereka terlepas dan membiarkan wanitanya menghirup udara sebanyak-banyak
*********
"Ini hukuman Ai, karena kamu masih berani memanggil aku dengan sebutan Tuan" Adam berucap di sela tautan bibir mereka terlepas dan membiarkan wanitanya menghirup udara sebanyak-banyak
Ya Adam sudah mengklaim Ayra sebagai wanitanya dan tidak akan dibiarkan lepas begitu saja.
Ayra mencoba mengambil nafas sebanyak-banyak saat ciuman mereka terlepas, sebelum Ayra melangkan protesnya kepada lelaki yang tidak punya malu itu dan disaat itu bibir mereka menyatu kembali bahkan lelaki itu! membiarkan tangan Ayra memukulnya karena pukulan tak berarti bagi Adam.
Saat tangan Ayra melemah, tangan Adam justru bergerak cepat memindahkan tangan mungil ke atas lehernya. Dengan nafas yang memburu, ia segera membopong tubuh kecil Ayra ke atas kasur empuk miliknya. Yang dilakukan Adam sangatlah cepat, sehingga Ayra tidak diberi kesempatan sama sekali untuk protes.
Adam terus melanjutkan kegiatannya, Ayra terlihat berantakan oleh tingkahnya.
"Tu-an, ku mohon lepaskan ini tidak benar" pinta Ayra dengan suara lirih dan tangannya masih mencoba menghalangi apa yang dilakukan Adam.
Adam tak merespon sama sekali apa yang wanita dalam kungkung katakan, telinganya seakan sudah tuli. Dia terus melanjutkan kegitatannya tanpa berniat berhenti, deruan nafasnya saling bertautan sampai Adam kehabisan oksigen dan melepaskan tautan mereka untuk memberi jeda dan mengambil udara sebanyak-banyaknya.
Namun saat tautan itu terlepas, seketika tatapan Adam yang penuh gairah bertemu dengan mata bening Ayra yang sudah sayu, tenaganya pun sudah terkuras habis berharap lelaki yang berkuasa atas dirinya bisa melepaskannya.
Sungguh Adam ingin melakukan lebih, namun saat melihat mata bening yang menatapnya dengan rasa iba diiringi dengan tetesan air mata yang membasahi pipi wanitanya, dia tidak tega memaksa kehendaknya. Sebelum dia melepaskan kungkungannya bibir meraih bibir bengkak Ayra kemudian bibir mengarah ke leher jenjang milik Ayra dan membuat tada kepemilikannya disana dan diiringi dengan teriakan Ayra memanggil namanya.
"Adam,,,," teriak Ayra tanpa sadar memanggil nama Adam tanpa embelan Tuan saat kulit lehernya bertemu dengan bibir Adam. Dengan senyum penuh kemenangan lelaki yang dipanggil namanya pun melepaskan mangsanya.
"Aku suka, kamu memanggil namaku Ay" Adam berucap kemudian dia menjatuhkan badannya tepat disebelah Ayra.
Seketika suasana didalam ruang terasa hening hanya deru nafas keduanya yang sedang bertautan berlomba-lomba memenuhi ruangan yang terasa panas meskipun suhu ruangan sudah dinyalakan.
****
"Ma-s" panggil Ayra dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar.
"Ya,,, kenapa sayang?" dengan senyum nakal dan menggoda lelaki itu menatap Ayra yang sudah berantakan karena ulahnya, bahkan satu tangganya sedang mengusap mahakarya yang indah tercetak jelas di leher jenjang Ayra.
"Ini hukuman Ay,, masih berani memanggil ku dengan sebutan Tuan?" sambil mengecup kembali mahakarya yang tercetak sempurna di leher wanita masih dalam kungkungan-nya.
Ayra terdiam, mencoba menahan nafasnya dan bertahan agar tidak membuat keributan kembali dengan lelaki yang masih mendekapnya erat seakan enggan untuk berpisah
"Kamu tidur disini ya,," dengan lantang suara itu terdengar di telinga Ayra yang sudah mulai tenang, namun kembali bergemuruh kembali ingin rasanya marah dan memukul lelaki yang masih setia di posisinya.
"Tidak bisa, tu,,,an" dengan tidak sengaja kembali Ayra menyebutkan panggilan terkutuk itu. Sehingga membuat pemilik raga merubah posisinya kembali dan menghadap Ayra.
Seperti lagi di sidang mata tajam Adam berhadapan kembali dengan mata bening milik Ayra yang terlihat takut dan itu terlihat jelas dengan pucatnya muka sang wanita karena ditatap dengan intens dan penuh intimidasi.
"Ulangi?'' sambil mendekatkan kembali bibir yang sudah mulai kering ke tempat yang dari diusapnya. 1 centi lagi bibir menyentuh kulit jenjang Ayra, seketika tangan mungil Ayra menjadi penghalang kembali.
Adam menarik kembali bibirnya dengan sidikit senyum nakal dibibirnya melihat tikah Ayra.
Maaf, aku belum terbiasa dengan panggilannya ucap Ayra yang masih was was.
********
****
"Terima kasih Ay" bisik Adam mesra ke telinga wanita yang saat ini sudah sah menjadi miliknya, saat para tamu sudah lengang, tak lupa tangan lelaki itu memeluk dengan agresif pinggang ramping istri kecilnya.
"aku tidak melakukan apa-apaaaaaaaaaaaa mas, harusnya aku yang terima kasih karena sudah bantu banyak dalam hidupku" Balas wanita yang saat ini sedang ditatap oleh sang majikan yang kini sudah berubah menjadi suaminya.
Kedua mempelai yang sedang berbahagia itu saling bertanya jawab, dan jangan lupakan senyum Adam yang selama ini jarang terlihat kini terlihat oleh banyak orang bahkan para karyawan dan pekerjaannya pun sampai terheran-heran.
Namun dibalik kebahagiaan mereka ada 1 orang di belakang sana memasang expresi sangat mengerikan karena melihat kebagian mereka, wanita itu adalah Renata sekretaris pribadi Adam bagaimana ia tidak marah setelah penghinatai istri boss yang berujung ke perceraian dia berharap wanita itulah yang akan menggantikan posisi nyonya Adam Sunjaya selain dia memiliki kecantikan yang menurutnya lebih dari Ayra dia juga memiliki pendidikan yang bagus.
Namun dia kalah selangkah dan terlalu percaya diri, Adam yang diyakininya tidak memiliki wanita idaman karena selalu berada di kantor dengannya dan tidak terdengar juga gosip tentang jika Adam sedang berkencan ternyata memberinya udangan.
Yang tidak Wanita itu tau, ternyata Adam menyimpan wanitanya di rumahnya, ini sungguh tidak adil dia sudah merelakan Adam meniukan dengan Luna istri pertamanya sampai Adam dikhianati, namun untuk kali ini di tidak akan mengngalah begitu saja meskipun Adam dan Ayra sudah menikah dia akan berusaha menjadikan pernikahan mereka tidak bahagia dia ingin merebut kembali Adam untuk menjadi miliknya.
Dan membuat hati Renata jadi panas melihat lelaki yang selama ini tidak pernah tersenyum meskipun dia sudah melakukan banyak hal, tapi hanya dengan memandang wanita kampungan itu senyum Adam terpampang sempurna.
Dengan hati yang panas, Renata berjalan menuju kedua pasangan saat ini sedang berbahagia.
"selamat ya Pak, semoga pernikahan kalian bahagia selamanya" ucap Renata dengan penuh dusta padahal dia mengharapkan tidak ada kebahagian dalam pernikahan mereka.
"Terima kasih,"balas Ayra dengan tulus karena dari tadi suaminya tidak ada niat untuk menjawab doa perempuan cantik yang ada di hadapannya bahkan saat ini senyum Adam seketika menghilang karena ada yang mengganggu kegiatannya.
"Dasar lelaki aneh atau dia mempunyai dua kepribadian" Ayra mulai bertanya saat melihat tingkah lelaki yang saat ini sudah menjadi suaminya ini, tentu pertanyaan tidak diucapkan langsung ke Adam karena kalau dia bertanya langsung entah hukuman apa yang akan diberikan Adam.
"kamu melamunkan apa ha?" Adam pun tidak tahan dengan tikah Ayra yang dari kepergiaan sekretarisnya dia mulai termenung, ditariknya kembali pinggang ramping istrinya bahkan lebih dekat dari sebelumnya.
Perlakukan Adam membuat Ayra malu, bahkan sekarang mukanya memerah. "kenapa lelaki ini tahu malu"
"Mas lepaskan malu, dilihat orang!" Ayra sudah merasa risih dengan perlakuan Adam yang semakin lama semakin menjadi sehingga menjadi bahan pertonton tamu yang masih ada di pesta mereka meskipun tamu sudah terlalu banyak namun Ayra tidak mau mereka menjadi bahan gosipan tamu yang datang.
"Apa kamu cemburu sayang?” adam semakin mendekat dan mengikis jarak diantara mereka tanpa menghiraukan yang dikatakan Ayra yang dari tidak sudah menggeliat dan bertingkah untuk dilepaskan dari dekapannya.
********
Setelah semua rangkain acara selesai, Adam dengan sifat agresifnya langsung membawa Ayra pergi meninggal lokasi acara. Sekarang 2 pasang mata itu berada dalam satu ruang yang sudah dihias pengantin baru.
“Mas, bersih-bersihnya ya” ucap Ayra yang mencoba menghindari tatapan Adam yang sangat menakutkan kepadanya yang baru keluar dari kamar mandi masih memakai kimono menutupi bajunya yang kurang bahan. Etah ide siapa, kenapa semua baju yang ada kopernya semuanya diganti menjadi baju kurang bahan, padahal Ayra sudah memasukan baju yang normal masuk ke dalam covernya sebelum mereka berangkat.
Dengan senyuman yang nakal, bukan mengikuti yang disarankan Ayra kepadanya. Adam malah mempercepat langkahnya dan mengangkat ke atas meja rias yang tersedia.
“Aku, butuhan bayaran Ay dan langsung mendaratkan bibir ke bibir mungil milik Ayra tanpa aba-aba”
Ayra tidak memberontak seperti sebelumnya, dia mencoba menerima apa yang dilakukan Adam, bahkan meskipun belum ada balasan darinya, bibirnya perlahan terbuka, membuat Adam semakin lancar dan mudah melakukan apa yang diinginkannya.
Karena tidak ada penolakan dari Ayra, bahkan Ayra memberikan jalan baginya. Adam yang sudah menantikan momen ini, semakin memperdalam ciumannya dan tangannya pun tidak tinggal diam dan menarik tali kimono yang dikenakan Ayra.
Ayra yang menyadari yang dilakukan Adam, mulai panik. Tapi kepanikan semakin menjadi saat Adam berhasil melepaskan tali kimono yang dipakainya, bahkan saat ini baju itu sudah jatuh begitu saja menyisakan kain tipis warna hitam yang membalut tubuhnya, tapi tidak sepenuhnya dikatakan penutup, karena meskipun baju digunakan Adam pastinya masih bisa melihat bentuk badannya dengan jelas.
Spontan tangan Ayra yang sebelum berada di atas leher Adam ditarik oleh Ayra mencoba menutup tubuhnya yang bisa iya tutupi.
Adam yang menyadari apa yang dilakukan Ayra, menghentikan kegiatannya dengan menahan senyum. Dia sangat menyukai tingkah Ayra saat ini.
“Apa kamu masih malu Ay” Adam bertanya dengan sangat lembut, kemudian melanjutkan kata-katanya. “aku sudah melihat semuanya Ay”
Ucapan Adam membuat Ayra mengangkat kepala untuk menatap Adam dengan penuh tanya tanya. “kapan Adam melihatnya, bahkan ini pertamnya Ayra memakai pakai yang kurang bahan, apa mungkin waktu itu Adam yang mengganti pakaiannya’ Pikiran Ayra sudah kemana
Masih dalam lamunnya, Ayra terkejut saat tubuhnya diangkat oleh Adam.
***********
“Suami idaman mu” Goda Adam. Kemudian dia memajukan tubuhnya, mencuri kecupan di bibir Ayra lalu dengan cueknya berdiri setelah berhasil membuat wanita di depannya salah tingkah dengan perasaan senang lalu dia melangkah ke arah Juna.
Namun belum lima langkah, sebuah bantal mengenai pinggang kokohnya
“Dasar mesum!” geram Ayra
Adam menampilan cengiran dengan satu mata berkedip “ I Love You Ayra Surya Pradita”
*****
Sepertinya aku harus kembali Ay, sebelum lelaki pencemburu itu kembali lagi memberikan kenangan diwajahku “kekeh Raka sambil tubuhnya bergidik ngeri”
Sepertinya Raka, setelah Raka pergi. Ayra pergi menyusul Adam ke kamar